
Nyoman Nuarta, pematung kelahiran Tabanan, Bali tersebut mengungkap proses panjang di balik dua proyek monumental yang sangat lekat dengan namanya, yakni Garuda Wisnu Kencana dan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara. (foto: dok ArtSubs)

Nyoman Nuarta usung miniatur Istana Garuda IKN ke ArtSubs 2026.
Namun, bantuan tersebut ternyata bukan akhir persoalan. Setelah proyek berjalan sekitar delapan tahun, pinjaman mulai ditagih. Nuarta bahkan mengaku sempat menawarkan aset senilai sekitar Rp1,3 triliun kepada negara, tetapi belum mendapatkan kepastian tindak lanjut.
“Begitu banyak polemik dan dinamika yang terjadi,” ujarnya.
Perjalanan GWK akhirnya menemukan jalan melalui kerja sama dengan Grup Alam Sutera. Dari sebuah gagasan yang diperjuangkan bertahun-tahun, kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi destinasi wisata dan budaya.
Bagi Nuarta, pengalaman itu menjadi bukti bahwa proyek monumental membutuhkan satu hal yang sering kali tidak terlihat dari hasil akhirnya, yakni keberanian untuk memulai ketika hasilnya belum tentu dipercaya orang lain.
Seniman Tak Cukup hanya Punya Ide
Nuarta mengatakan, sebagian proyek yang dikerjakannya justru berawal dari inisiatif pribadi. Ia membuat konsep, menyusun gagasan proyek, kemudian membawanya kepada berbagai pihak.
“Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” katanya.
















