
Melalui eksperimen ‘Never Alone Scanner’ dan pendekatan skenografi, KBUSR menunjukkan bahwa karya baru tidak selalu lahir dari sesuatu yang sama sekali belum pernah ada. Kebaruan justru dapat muncul ketika sesuatu yang sudah tersedia dipilih, diolah, dan dibaca dengan cara berbeda. (foto-foto: dok ArtSubs)
Dalam pendekatan ini, teknologi tidak sekadar melayani gagasan yang sudah selesai. Proses menggunakan alat justru dapat memunculkan gagasan baru. Scanner menjadi semacam rekan dalam studio, bukan menggantikan seniman, melainkan menyediakan kemungkinan yang dapat dijajaki selama proses penciptaan.
Eksperimen ‘Never Alone Scanner’ juga memperlihatkan bahwa bahan transparan, seperti lembaran akrilik, dapat digunakan untuk menghasilkan lapisan gambar. Ketika beberapa lapisan ditumpuk dan dipindai, hubungan antarbentuk menghasilkan citra baru.
Setiap lapisan memiliki karakter sendiri, tetapi ketika dipertemukan, keseluruhannya membentuk komposisi yang berbeda dari unsur-unsur asalnya.
Pendekatan ini memiliki hubungan dengan praktik yang pernah dikembangkan Handiwirman Saputra. Dalam konteks KBUSR, pemanfaatan ‘scanner’ bukan sekadar urusan teknis, tetapi bagian dari eksplorasi mengenai cara sebuah karya terbentuk.
Yang penting bukan hanya hasil akhirnya, melainkan bagaimana proses, material, dan perangkat bekerja bersama dalam menghasilkan kemungkinan artistik.
Susun Ulang yang Sudah Ada
Gagasan serupa dapat ditemukan dalam skenografi. Yuli Prayitno menjelaskan pendekatan yang memanfaatkan objek dan material yang tersedia untuk membangun suatu pengalaman ruang. Alih-alih selalu menghadirkan benda baru, skenografi dapat mengolah apa yang ada, menempatkannya dalam hubungan berbeda, lalu menciptakan makna baru melalui susunan tersebut.

















