
Melalui eksperimen ‘Never Alone Scanner’ dan pendekatan skenografi, KBUSR menunjukkan bahwa karya baru tidak selalu lahir dari sesuatu yang sama sekali belum pernah ada. Kebaruan justru dapat muncul ketika sesuatu yang sudah tersedia dipilih, diolah, dan dibaca dengan cara berbeda. (foto-foto: dok ArtSubs)
Pilihan teknik, lanjutnya, pengolahan permukaan, serta keputusan seniman dapat menghasilkan variasi dan karakter visual tersendiri. “Reproduksi dengan demikian bukan semata-mata lawan dari penciptaan,” kata Asmudjo.
Eksperimen KBUSR mengajak publik mempertanyakan kembali batas antara karya asli dan salinan. Jika sebuah gambar dipindai, dipotong, diperbesar, lalu disusun kembali hingga membentuk komposisi berbeda, apakah hasilnya sekadar salinan?
Pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan mempertentangkan orisinalitas dan reproduksi secara mutlak. Justru, proses tersebut memperlihatkan bahwa karya dapat lahir melalui hubungan yang rumit antara bahan yang telah tersedia dan keputusan kreatif seniman.
Dalam pengertian ini, kreativitas bukan hanya kemampuan menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada. Kreativitas juga menyangkut kecakapan melihat potensi yang belum tampak pada sesuatu yang sudah ada. Sebuah benda, gambar, atau material bisa menghadirkan kemungkinan baru ketika diperlakukan di luar kebiasaan.
Melalui ‘Never Alone Scanner’, skenografi, dan metode salin, KBUSR menawarkan praktik yang menempatkan proses sebagai bagian penting dari penciptaan. Scanner, material, objek, dan ruang tidak semata-mata menjadi perangkat pendukung, tetapi ikut membentuk cara seniman berpikir dan bekerja.
Pada akhirnya, kebaruan tidak selalu ditentukan oleh seberapa asing bahan yang digunakan atau seberapa canggih alat yang dipakai. Kebaruan dapat muncul dari cara melihat, memilih, dan menyusun kembali hal-hal yang sudah tersedia.
Menyalin pun tidak harus berakhir sebagai pengulangan. Di tangan seniman, tindakan itu dapat menjadi pintu menuju kemungkinan yang sebelumnya belum terlihat. */ana/ap
















