
Dari Rakyat untuk Indonesia Raya
Ruwatan Indonesia Raya akhirnya tidak sekadar ditempatkan sebagai acara peringatan. Ada upaya untuk menjadikannya ruang refleksi, kebersamaan, dan gotong royong.
Di tempat WR Soepratman dimakamkan, lagu yang dahulu menjadi simbol perjuangan kembali dihadirkan dalam bentuk yang lebih beragam—dari wayang ruwat, doa, hingga suara generasi Z yang menyanyikan lagu-lagu nasional.
Sementara di balik panggung, masyarakat diajak mengambil bagian dalam pembiayaan kegiatan melalui donasi. Bagi KPIR, itulah makna yang ingin dirawat: Indonesia Raya bukan hanya lagu yang dinyanyikan pada momentum tertentu, tetapi semangat yang dapat diwujudkan lewat tindakan bersama.
Dan sebuah bendera kecil di tengah ribuan bendera itu menjadi simbol sederhana dari keyakinan tersebut—bahwa selama masih ada orang yang mau berpikir, bergotong royong, dan bergerak, semangat Indonesia Raya belum selesai. */ana/ap
















