
Film ‘Sedekah Wayang Suket’ dijadwalkan diputar pada 9 Oktober 2026 di Gedung/Studio Sjumandjaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Festival ini turut diikuti karya-karya film dari berbagai negara. (foto-foto: dok)

Meimura
Di balik film tersebut ada Heroe Sae, seniman asal Surabaya yang sejak muda telah dekat dengan kamera dan dunia perfilman. Ketertarikannya terhadap seni tradisi juga tumbuh sejak bergabung dengan Teater Jaguar.
Heroe sebelumnya telah menghasilkan sejumlah karya film, di antaranya ‘Srikandi-Srikandi Nusantara’, produksi Parfi Jawa Timur. Ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler film di sejumlah sekolah menengah atas di Surabaya dan sekitarnya.
Dari Tradisi, Berjalan Lewat Teknologi
Masuknya ‘Sedekah Wayang Suket’ ke jajaran delapan besar memperlihatkan satu kemungkinan menarik: seni tradisi tidak harus berhenti di panggung atau ruang pertunjukan. Ludruk dan Wayang Suket dapat diterjemahkan ke dalam bahasa film, kemudian dipertemukan dengan penonton yang lebih luas.
Bagi para pembuatnya, capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa keterbatasan produksi bukan selalu penghalang untuk menghasilkan karya yang bisa mendapat perhatian lebih jauh.
Namun, perjalanan film indie rupanya tidak selesai ketika karya dinyatakan lolos festival. Ada persoalan lain yang segera muncul.
















