Pemkot Surabaya Resmi Mengganti IMB Jadi PBG, Ini Perbedaan dan Alur Proses Pengurusannya

0
670

ILUSTRASI : Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya.

iniSURABAYA.com – Pemkot Surabaya resmi memberlakukan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagai ganti dari Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Perubahan nomenklatur dari IMB menjadi PBG itu mulai efektif dilaksanakan sejak 15 Agustus 2023.

Penyelenggaraan PBG di Kota Surabaya itu dilaksanakan berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya Nomor 52 tahun 2023 tentang Perizinan dan Non Perizinan di Kota Surabaya.

Irvan Wahyudrajad, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya menegaskan, setelah Undang-undang Cipta Kerja (UUCK) diundangkan beserta peraturan pelaksanaannya, yaitu PP No. 16 Tahun 2021, maka nomenklatur IMB diubah menjadi PBG.

PBG adalah perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan Standart Teknis Bangunan Gedung.

“Nah, di Kota Surabaya baru resmi diberlakukan sejak 15 Agustus 2023 ini,” kata Irvan di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Irvan menambahkan, dengan berlakunya PBG ini, bukan berarti IMB yang telah diterbitkan tidak berlaku lagi. IMB yang telah diterbitkan tetap berlaku selama tidak ada perubahan fungsi dan/atau struktur/konstruksi bangunan.

“Kalau ada perubahan fungsinya maka secara otomatis harus dan wajib diurus lagi,” ungkapnya.

Irvan menyatakan pula terkait perbedaan IMB dan PBG. Salah satunya adalah yang menerbitkan izin bangunannya. Kalau IMB yang menerbitkan adalah DPRKPP, sedangkan kalau PBG diterbitkan langsung oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Surabaya.

“Namun tetap berdasarkan Persetujuan Teknis (Perstek) dari DPRKPP,” katanya.

Adapun alur proses PBG dimulai dari pemohon melengkapi semua berkas yang telah disyaratkan, kemudian berkas-berkas itu diunggah melalui sswalfa.surabaya.go.id. Selanjutnya, pihak DPMPTSP akan melakukan verifikasi data yang telah diunggah, lalu DPRKPP melakukan verifikasi data dan memproses berkas tersebut.

Setelah itu, ada pemberitahuan pengantar bayar lalu pihak pemohon melakukan pembayaran. Kemudian DPRKPP menerbitkan Persetujuan Teknis (Perstek) lalu DPMPTSP melakukan konfirmasi pembayaran dan menerbitkan PBG. Selanjutnya, pemohon bisa mencetak secara mandiri SK PBG dan lampiran gambar PBG-nya.

“Jadi, lebih gampang dan lebih mudah dengan PBG ini. Warga atau pemohon bisa mengurus izin bangunannya melalui daring semuanya dari awal hingga akhir. Dan dengan PBG cukup satu pintu tidak perlu ke dinas-dinas,” imbuhnya.

Yang paling penting, lanjut Irvan, pemohon bisa cetak sendiri SK PBG-nya sekaligus lampiran gambar PBG-nya. Bahkan, pemohon yang pernah mengunggah dokumen persyaratan di sswalfa, tidak perlu mengunggah lagi dokumen yang sama.

“Jadi, banyak kemudahan dengan pakai PBG ini,” katanya.

Sementara itu, M Afghani Wardhana, Kepala DPMPTSP Surabaya juga memastikan bahwa nomenklatur PBG ini semakin mempermudah warga untuk mengurus izin bangunannya, karena hanya melalui satu pintu dan pengurusannya bisa dilakukan melalui daring semuanya.

“Bila masih ada warga atau pemohon yang masih bingung dengan mengurus daring ini atau masih bingung persyaratan dan sebagainya, silakan bisa langsung datang saja ke Mal Pelayanan Publik Siola, tepatnya di Klinik Investasi. Di sana ada petugas kami yang akan memberikan penjelasan dan mendampingi warga untuk mengurus PBG ini,” tuturnya. wid

Comments are closed.