Garap ‘The Red Shoes’ di Pentas Tari Balet, Ini Tantangan yang Dihadapi Sylvi Panggawean

iniSURABAYA.com – Setiap setahun atau bahkan dua tahun sekali, murid-murid Premiere School of Ballet menampilkan kreasi di hadapan publik.

Kisah yang diangkat pun beragam. Setahun silam misalnya, mereka hadir di panggung Ciputra Hall Performing Arts Centre lewat kisah dari Tiongkok berjudul ‘The White Haired Girl’.  

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, mereka juga mengangkat kisah Disney berjudul ‘Mulan’. Ratusan murid Premiere School of Ballet ini juga pernah mengangkat kisah ‘Shrek’, karakter ogre fiksi karya penulis Amerika, William Steig.

Dan kali ini, di hadapan masyarakat Surabaya, murid-murid Premiere School of Ballet ini bakal tampil lewat kisah ‘The Red Shoes’. Pertunjukan yang ceritanya diadaptasi dari karya Hans Christian Andersen ini dijadwalkan pentas di Ciputra Hall Performing Arts Centre, Jumat (6/9/2019) malam.

Baca Juga : https://inisurabaya.com/2019/09/murid-murid-premiere-school-of-ballet-dan-ypac-tanamkan-rasa-percaya-diri-lewat-kisah-the-red-shoes-begini-kisahnya/

“Ini untuk pertama kalinya di Surabaya, pementasan balet yang mengangkat kisah tersebut,” tutur Sylvi Panggawean ST ARAD RAD pengelola Premiere School of Ballet.

Menurut Sylvi, cerita tersebut terbilang tidak biasa dan jarang dipakai dalam pementasan balet di Indonesia. “Adaptasi cerita tersebut menjadi gerakan balet tanpa dialog adalah kesulitan pertama,” tegasnya.

Tantangan lain yang dihadapi Sylvi saat mengadaptasi ‘The Red Shoes’ adalah membuat gerakan-gerakan yang indah dan pesannya mudah ditangkap oleh penonton.

“Sebab di Indonesia, khususnya Surabaya, cerita ini kan mungkin belum banyak orang tahu. Jadi bagaimana menyampaikan pesan cerita ini melalui balet, menjadi PR besar kami,” ujar Sylvi yang juga Artistic Director Premiere School of Ballet.

Lebih lanjut Sylvi menyatakan, berbeda dengan cerita-cerita yang sudah cukup familiar, biasanya mengolah tarian balet akan lebih mudah. Contohnya adalah cerita Cinderella.

Selain menyampaikan pesan cerita dengan baik, Sylvi pun harus membuat penonton tidak merasa bosan selama 80 menit pementasan. “Karena itu persiapannya sudah kami lakukan lama. Sekitar tujuh bulanan, dari April 2019,” urainya. dit

Pos terkait