Deteksi Covid-19 Melalui Bau Keringat Ketiak? Simak Temuan Guru Besar ITS yang Diberi Nama i-nose c-19 Ini

287 views
Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur (kiri) ketika melakukan tes menggunakan i-nose c-19 yang dikembangkan ITS.

iniSURABAYA.com – Upaya untuk menciptakan alat pendeteksi virus corona terus dilakukan kalangan akademisi Tanah Air. Terakhir adalah inovasi yang dilakukan Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD.

Uniknya, guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini mengembangkan inovasi alat pendeteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak yang dinamakan i-nose c-19.

Inovasi teknologi yang telah melalui tahap satu uji klinis itu pun dipresentasikan di depan Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur di rumah dinasnya, Sabtu (16/1/2021) siang.

Tim pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan ini dipimpin langsung oleh guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS dan melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral.

i-nose c-19 merupakan alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor). i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Perangkat i-nose c-19, alat pendeteksi Covid-19 pertama di dunia melalui bau keringat ketiak yang dikembangkan ITS.

“Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19,” ungkap profesor yg karib disapa Ryan ini.

Selain itu, lanjutnya, alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan teknologi screening Covid-19 lainnya. Sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil screening pada i-nose c-19.

Hal ini tentunya menjamin proses lebih cepat. ”i-nose c-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini,” paparnya. 

Ryan memaparkan bahwa data dalam i-nose c-19 terjamin handal karena penyimpanannya pada alat maupun cloud. Penggunaan cloud computing mendukung i-nose c-19 dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

”Dengan berbagai kelebihan yang ada, i-nose C-19, karya anak bangsa, hadir untuk menjawab tantangan pandemi Covid-19 yang belum terkendali,” ujarnya.

Selain terjamin dari segi biaya karena menggunakan komponen teknologi yang murah, i-nose c-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya.

“Scanner ini dapat dilakukan semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar,” tuturnya.

Diungkapkan Ryan, i-nose c-19 merupakan hasil penelitian selama empat tahun yang kemudian dioptimalkan dengan menyesuaikan virus Covid-19 sejak Maret 2019 lalu.

Saat ini, i-nose c-19 telah sampai pada fase satu uji klinis. “Ke depannya ditingkatkan lagi data samplingnya untuk izin edar dan dapat dikomersialkan ke masyarakat,” ujar dosen Teknik Informatika ITS ini.

Ryan berharap, i-nose c-19 ini dapat segera dikomersialkan dalam waktu maksimal tiga bulan ke depan. “Melihat semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19 ini dunia membutuhkan banyak teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan,” pungkasnya.

Menanggapi inovasi tersebut, Wagub Jatim menyampaikan bahwa ITS selama ini telah banyak berkordinasi dengan Pemprov Jatim dalam mengembangkan perangkat lunak berbasis kecerdasaran buatan, salah satunya i-nose c-19 ini.

“Tentunya kami sangat bersyukur dan siap bersinergi dalam mendukung pengembangan inovasi i-nose c-19 ini,” ujar Emil.

Lebih lanjut, orang nomor dua di Jatim ini menyampaikan bahwa penemuan ITS tersebut merupakan terobosan baru, sementara lainnya banyak sudah ditemui pendeteksi Covid-19 berbasis cahaya dan suara.

“Ternyata berbasis penciuman juga bisa direplikasi oleh elektronik, terbukti hal ini dapat ditemukan dalam i-nose c-19 ini,” cetusnya.

Sebelumnya, Bambang Pramujati ST MScEng PhD, Wakil Rektor IV mengungkapkan  bahwa penemuan yang digagas tim peneliti ITS ini merupakan salah satu lanjutan dari kontribusi ITS di era pandemi Covid-19 saat ini.

Nantinya setelah melewati serangkaian uji coba dan peningkatan sampel, diharapkan  bisa mempercepat proses pendeteksian orang-orang yang terduga terjangkit virus Covid-19 maupun tidak.

“Dengan adanya inovasi dari ITS ini, kami (ITS) juga meminta dukungan Pemprov Jatim untuk bisa bersama-sama memperkenalkan dan mengembangkan penemuan ini lebih lanjut,” begitu harapnya. wid

#baukeringatketiak #emildardak #inosec-19 #ITS #wagubjawatimur

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)