

iniSURABAYA.com – Melukis di kain katun toyobo perlu teknik khusus yang berbeda perlakuannya dibanding melukis di atas kanvas. Ketrampilan itu pula yang jadi tantangan para perupa ketika melukis udeng dari bahan kain katun toyobo.
Penggunaan warna tidak bisa langsung diaplikasikan pada kain bertekstur halus dan lembut ini. “Terutama warna-warna yang kekuatan atau intensitasnya rendah,” ungkap Esti S Ardian kepada iniSurabaya.com.
Pelukis yang tinggal di Surabaya Barat ini jadi salah satu dari belasan perupa yang siang itu gabung dalam acara ‘Melukis Udeng’ di Café Taman Surabaya Suites Hotel, Kamis (24/2/2022).
Kain sepanjang 115 x 30 cm warna merah maroon itu dibentangkan di meja masing-masing pelukis. Untuk melukis, para perupa ini memakai cat khusus tekstil.
“Warna yang intensitasnya tinggi itu adalah yang cenderung gelap, seperti biru tua atau hitam. Yang warnanya lebih muda, seperti kuning atau warna lain yang bukan pastel,” paparnya.

Teknik khusus yang digunakan saat menggoreskan cat tekstil ini adalah melandasi kain dengan warna putih baru kemudian memakai warna-warna muda yang diinginkan.
“Kalau tidak dilandasi warna putih, pasti warna-warna muda itu kalah dan akan tenggelam di warna kain yang gelap itu,” paparnya.
Penggunaan cat tekstil ini, lanjut Esti, akan cepat kering meski tidak dijemur. Tetapi agar warna kuat melekat di kain, sebelum digunakan disarankan untuk disetrika terlebih dulu sehingga warna yang ada di permukaan makin melekat di pori-pori kain.
“Tentu tidak langsung disetrika, melainkan dilapisi dulu dengan kertas atau kain lain sebelum kemudian disetrika,” pesannya.
Lukisan cat tekstil ini diyakini akan awet meski beberapa kali dicuci. “Cara yang sama bisa dilakukan untuk bahan-bahan kain misal untuk topi, sepatu, tas, kerudung, mukena, dan baju,” imbuhnya.
Ditemui di tempat yang sama, Budi Bi penggagas acara ‘Melukis Udeng’ ini mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentu kampanye agar masyarakat tidak melupakan udeng.
“Di jaman dulu, nenek moyang kita selalu memakai udeng untuk tutup kepala yang sekarang banyak digantikan oleh topi,” cetusnya.
Pelukis berambut panjang ini menyatakan, udeng tidak identik pada daerah tertentu. “Setiap daerah punya kekhasan masing-masing. Udeng intinya adalah ikat kepala dari bahan kain. Bedanya di tiap daerah adalah cara mengikatnya sehingga menimbulkan ciri berbeda di setiap daerah,” urainya.
Selain melukis udeng, pada hari yang sama juga dilakukan prosesi pembentangan lukisan sepanjang 20 meter yang sudah dilukis beramai-ramai oleh perupa di Café Taman. ap
















