Hepatitis Akut Masuk Jawa Timur? Dinkes Jatim Beri Penjelasan Begini

154 views
Dokter Erwin Astha Triyono SpPD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

iniSURABAYA.com – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengumumkan adanya 114 kasus sindrom jaundice (kuning) akut atau hepatitis akut di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) setempat, temuan itu terjadi pada minggu pertama hingga minggu ke-17 tahun 2022 (per 4 Mei 2022).

“Minggu ke-14 hingga minggu ke-17 cenderung mengalami kenaikan,” kata dr Erwin Astha Triyono SpPD, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam rilis tertulisnya.

Sebagai catatan, data SKDR tersebut adalah kasus suspek hepatitis akut yang dilaporkan untuk usia secara umum, dan tidak spesifik anak-anak atau kurang dari/sama dengan 16 tahun.

Penderita sindrom jaundice akut ini mengalami air kencing berwarna gelap, feses pucat, kuning pada sclera mata dan kulit, lemas, nyeri sendi/otot. Dokter Erwin menekankan masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah 114 orang itu mengarah ke hepatitis akut.

“Jadi, hingga saat ini masih belum ditemukan pasien positif hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di Jawa Timur,” begitu tegasnya.
Menyikapi hal tersebut, Dinkes Jatim mengimbau masyarakat khususnya anak-anak dan orang tua untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Serta menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.
“Untuk mencegah dan mengendalikan penularan hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di Jawa Timur, kami mengimbau masyarakat lebih berhati-hati, namun tetap tenang,” pesannya.  

Erwin menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dan jejaring dinkes, rumah sakit, dan puskesmas pasca-ditemukannya kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di Indonesia.   

Dinkes Jatim juga membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor. “Dinkes Jatim terus melakukan promosi kesehatan melalui KIE agar masyarakat dapat memahami gejala hepatitis akut tersebut,” imbuhnya.

Erwin berharap agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di wilayahnya untuk siap dan sigap. “Segera laporkan ke Dirjen P2P Kemenkes RI melalui Dinkes Jatim bila menemukan kasus sesuai dengan gejala akut yang tidak diketahui penyebabnya, agar bisa dilakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut,” urainya.

Sebagaimana diketahui, WHO menyatakan secara resmi Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya pada 15 April 2022. Sementara itu, jumlah laporan dari berbagai negara terus bertambah.

Sedang di Indonesia juga ada tiga anak yang diduga terkena penyakit ini. Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK 02.02/C/2515/2022.

Surat bertanggal 27 April 2022 itu tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown Aetology).
Kewaspadaan itu meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia dalam kurun waktu berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022. wid/dbs

#dinaskesehatan #hepatitisakut #jawatimur #surabaya

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    banner 700x100)