

Pria yang juga dikenal hobi pelihara perkutut ini mengaku sebagai penggemar seni ludruk sejak masih sekolah. “Bagi saya ludruk ini spesial. Sejak kecil saya penggemar Cak Kartolo dan kawan-kawannya,” tutur Tonny.
Tak heran bila Tonny punya keinginan kuat agar seni ludruk punya tempat pementasan yang lebih ‘bergengsi’ sehingga sehingga bisa menarik perhatian kalangan milenial.
“Saya juga punya mimpi kesenian ludruk bisa mengisi acara-acara resmi,” tegasnya.
Agar bisa diterima masyarakat luas, lanjut Tonny, seni ludruk tidak disajikan dalam kemasan penuh. “Ludruk sebaiknya bisa disuguhkan lewat penggalan-penggalan cerita, tetapi pesannya sampai ke masyarakat. Bisa menyampaikan kritik sosial lewat guyonan, jula juli dengan sentilan yang khas,” tuturnya.
Tonny juga berpesan, agar pegiat seni ludruk aktif melakukan inovasi sehingga pertunjukan tradisional ini bisa akrab dengan generasi milenial.
“Isine ludruk ojo ngono ae. Harus bisa disesuaikan dengan jamannya pasti anak membuat senang anak muda. Ludruk bisa dikembangkan kisahnya tentang anak muda,” ujarnya.















