
“Jadi bukan hanya menyadari kalau kita ini beragam, tetapi juga mengenali dan menghormati perbedaan yang ada. Dialog juga diharapkan bisa mendorong terciptanya iklim kehidupan gotong-royong yang harmonis antar pelaku adat di Jawa Timur,” tuturnya.
Khofifah menegaskan rasa optimistis akan kebangkitan Jatim salah satunya didorong rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh di seluruh wilayah Jawa Timur.
Terbukti, Jatim bisa melewati situasi sulit selama pandemi Covid-19 dengan sangat baik berkat kuatnya karakter gotong royong dan kebersamaan di tengah-tengah masyarakat.
Maka dari itu, lanjut Khofifah, untuk mengawal kebangkitan Jatim, konsolidasi lintas suku, lintas daerah, lintas agama, lintas elemen dan organisasi masyarakat, dan lintas instansi sangat diperlukan. Dengan begitu, Jawa Timur dapat pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat.
Khofifah menyampaikan, untuk semakin memperkenalkan keberagaman suku yang ada di Jatim, Pemprov Jatim akan memproduksi film dokumenter yang mengangkat keunikan budaya, adat istiadat, kebiasaan, kuliner dan lain sebagainya. Harapannya, tentu saja eksistensi suku-suku tersebut, termasuk nilai adat istiadat serta kebudayaan dapat terus terjaga dan lestari.
















