

Yang juga menarik, evakuasi yang dilakukan DPKP Surabaya tak hanya berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia. Namun juga terhadap keberadaan hewan liar maupun kendaraan.
Selama tahun 2022, banyak peristiwa atau kejadian yang ditangani mulai dari lebah atau tawon vespa, ular, biawak, musang, monyet, hingga kendaraan terperosok ke sungai.
Dedik Irianto, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mengatakan, sepanjang tahun 2022 pihaknya melakukan evakuasi sebanyak 1.400 kejadian.
Jumlah itu terdiri dari evakuasi hewan 776, orang 183, kendaraan 116, bangunan 4, objek alam 287 dan objek jenis lain 34.
Dedik mengungkapkan, evakuasi hewan mendominasi atau paling banyak dilakukan DPKP dari kategori yang lain. Dengan rincian, yaitu evakuasi ular sebanyak 297 kejadian, lebah atau tawon 293, kucing 87, biawak 48, musang 17, anjing 12, monyet 12 dan hewan lain ada 10.
Dedik menyebut bahwa evakuasi hewan yang dilakukan ini berdasarkan permintaan atau laporan warga yang menghubungi Command Center 112 (CC 112) untuk meminta bantuan kedaruratan.
Seperti tawon vespa misalnya. Warga mengakui keberadaan hewan liar ini tidak hanya mengganggu, tetapi justru dianggap membahayakan.
“Karena mengganggu atau warga takut disengat, sehingga mereka meminta bantuan melalui Command Center 112. Dan keberadaan tawon vespa ini juga berbahaya, sengatannya bisa mematikan,” kata dia.
Menurut Dedik, evakuasi tawon vespa maupun ular liar, tak hanya diminta oleh warga yang tinggal di kawasan pinggiran Kota Surabaya. Banyak pula laporan atau permintaan dari warga untuk mengevakuasi hewan liar di kawasan tengah kota.
“Di gorong-gorong kawasan Basuki Rahmat juga pernah ada permintaan evakuasi ular jenis piton sepanjang tiga meter lebih,” paparnya.
Bahkan, kata Dedik, pernah ada permintaan evakuasi ular sepanjang tiga meter lebih di kawasan Tegalsari Surabaya. Saat itu, evakuasi ular jenis piton dilakukan petugas DPKP di atas plafon rumah seorang warga.
“Itu ularnya berada di atas rumah. Ketika dilakukan evakuasi, ularnya jatuh ke bawah dan sampai jebol plafonnya. Dan panjang ularnya itu sekitar 3 meter lebih,” ujarnya.
Dari 297 kejadian evakuasi ular pada tahun 2022, Dedik memaparkan, yang paling banyak adalah jenis sanca kembang atau piton. “Berikutnya disusul ular kobra, ular weling dan ular hijau,” urainya.
Mantan Kepala Bagian Pemerintahan Kota Surabaya ini juga menjabarkan, setelah berhasil dievakuasi, hewan liar tersebut selanjutnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kota Surabaya.
“Tetapi kadang ada juga yang diminta oleh komunitas-komunitas pecinta reptil,” ucapnya.
Dedik mengakui, personel yang melakukan evakuasi hewan seperti reptile memang telah terlatih. Para personel ini juga dilengkapi peralatan pendukung seperti baju anti lebah hingga snake stick atau tongkat penjepit ular.
“Ada salah satu petugas kami yang mempunyai sertifikat reptil Internasional. Ilmunya lalu dibagi-bagikan ke teman-teman lain, dilatih dan akhirnya bisa semua.
Peralatan-peralatan kami pun lengkap, seperti baju anti lebah dan snake stick yang kita bagikan ke pos-pos rayon,” pungkasnya. wid/hms
















