Dewan Pers Apresiasi Antologi Puisi ke-3 Warumas, ‘Wartakan Kemanusiaan, Kutulis Puisi’

Anggota Warumas saat bikin acara Baca Puisi Bareng Mahasiswa Universitas Bojonegoro.

iniSURABAYA.com – “Wartawan adalah pemilik jiwa-jiwa matang hasil observasi kehidupan.”

Kalimat singkat namun bernas itu disampaikan Sapto Anggoro, Ketua Komisi Pendataan, Penelitian dan Ratifikasi Pers Dewan Pers di buku antologi puisi ‘Wartakan Kemanusiaan, Kutulis Puisi’ yang bakal resmi dirilis di Sekretariat PWI Cabang Jawa Timur, pada Jumat (17/3/2023) mendatang.

Bacaan Lainnya

Sapto menekankan, sebagai bagian dari sastrawi, puisi semestinya berhubungan erat dengan jurnalistik yang jadi fokus Dewan Pers. Sebab sastrawan memiliki kekuatan jiwa dan hati yang peka, begitupun pers meletakkan etika sebagai nilai tertinggi.

Antologi puisi merupakan buku ke-3 komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) setelah meluncurkan ‘Kutulis Puisi Ini’ dan ‘Kucinta Negeri, Kutulis Puisi’ pada 2022. “Antologi puisi karya Warumas ini adalah sebuah kiprah yang sangat positif,” tegasnya.

Sapto meyakini, para wartawan yang tergabung di komunitas Warumas ini menempatkan etika sebagai nilai tertinggi. Dan, pada hakikatnya wartawan tidak mengenal kata ‘pensiun’. Maka tak mengherankan jika para wartawan yang tergabung dalam komunitas Warumas yang sudah lanjut usia dan sebagian besar sudah tidak aktif lagi di media, tidak bisa diam.

Otak dan hati mereka selalu gelisah serta terus aktif bekerja. Tangan mereka terus bergerak tak bisa berhenti menulis. Bedanya hanyalah pada bentuk ekspresinya.

“Dulu ekspresi mereka dituangkan dalam bentuk berita. Kini, setelah memiliki banyak waktu berkontemplasi, sepertinya pilihan yang pas jika kegelisan otak dan hati mereka dituangkan dalam bentuk puisi,” urainya.

Puisi adalah ekspresi intelektualitas. Dan wartawan adalah kaum intelektual. Meskipun belum membaca semua karya yang dimuat dalam antologi ini, tetapi jika menilik nama-nama yang ada di dalamnya, seperti Toto Sonata, Amang Mawardi, Aming Aminudin, Imung Mulyanto, Kris Maryono, dan lain-lain, Sapto yakin puisi-puisinya pasti sangat bernas.

Pasti buah perenungan mendalam hasil dari pengalaman selama berpuluh-puluh tahun menjadi jurnalis. “Mereka sudah kenyang pengalaman. Mereka sudah banyak mendengar, melihat, dan merasakan,” imbuhnya.

Dengan latar belakang seperti itu, puisi-puisi mereka pasti dibuat dengan penuh penghayatan serta dilahirkan melalu proses pengendapan pengetahuan dan pengalaman. Karena puisi pasti tidak dapat lahir dari jiwa-jiwa yang kosong.

Sapto berharap isi berbagi kisah dan imajinasi dalam antologi puisi ini bisa menjadi referensi dan memperkaya jiwa para jurnalis muda kita.

Sementara Kris Maryono, Ketua Komunitas Warumas menyatakan, antologi puisi ‘Wartakan Kemanusiaan, Kutulis Puisi’ sengaja disiapkan untuk merayakan Hari Pers Nasional 2023.

Sebelum resmi dirilis di Sekretariat PWI Jatim, kata Kris Maryono, akan digelar acara ‘Baca Puisi Bareng’ yang disajikan Warumas bekerjasama dengan manajemen Artotel TS Suites Surabaya pada Rabu (15/3/2023). wid

Pos terkait