
Dunia fantasi Lully Tulus dipajang di gelaran pameran 'Memanen Angin' di Jogja Gallery.

Dunia fantasi Lully Tutus dipajang di gelaran pameran ‘Memanen Angin’ di Jogja Gallery.
iniSURABAYA.com | YOGYAKARTA – Setelah gabung dalam beberapa ajang pameran bersama selama 14 tahun, Lully Tutus akhirnya memberanikan diri memajang karyanya di gelaran pameran tunggal.
Untuk debut pameran tunggalnya ini, Lully menyajikan 33 lukisan di Jogja Gallery yang dibuka untuk umum mulai Jumat (9/6/2023) hingga 22 Juni mendatang.
Dan sesuai arahan Mikke Susanto, kurator seni yang mendampinginya dalam solo exhibition ini, Lully menyuguhkan lukisan yang mewartakan pada semua publik tentang dunia pribadinya.
Dan pameran tersebut memang disajikan dalam bentuk dunia imajinasi Lully dengan segala rahasianya. Elemen itulah yang paling penting dalam setiap karya-karyanya.
Yang disuguhkan Lully bukan semata lukisan. Sejak dari gate galeri disulap Lully bak dunia baru yang menyenangkan siapa saja dari berbagai usia.
Namun, kata Mikke, kanvas yang direspons Lully dengan cat akrilik itu menjadi semacam buku cerita, catatan sejarah, maupun wadah imajinasi tentang sesuatu yang sebelumnya tak tampak.
Kanvas-kanvas Lully seperti terlahir untuk memenuhi dunia angan-angan yang tak berkesudahan. Tidak ada satu pun objek yang sama. “Dilukisnya secara detail pula,” ujar Mikke.
Sepertinya berapa pun kanvas yang disediakan, akan habis ‘dilalap’ oleh Lully tanpa beban. Terbukti, lebih dari 60an lukisan dan ratusan sketsa telah dihasilkan sejak 2009 ketika ia berkarya dengan kanvas berukuran besar.
Dalam amatan Mikke, dengan menghasilkan lukisan-lukisan penuh warna warni milik perempuan kelahiran Rembang, 28 Maret 1980 itu seperti memikirkan kembali hakikat hidup.
“Bahwa sedih-senang, hidup-mati, kenyang-lapar setiap insan tidaklah hitam putih dan bisa kita ’permainkan’,” urai Mikke.
Dunia Fantasi
Bagi Lully sendiri, melukis adalah muara yang mencurahkan fantasi-fantasinya selama ini. “Sejak kecill saya sudah ‘diganggu’ dengan fantasi itu,” begitu tuturnya.
Pernah suatu kali Lully naik ke genting rumah. Di atas sana, Lully membayangkan dirinya bisa terbang dengan membentangkan kedua tangannya bagai sayap.
Sebelum menerbangkan diri dari atas, neneknya menyelamatkan Lully.
Dan ternyata, fantasi itu tak hanya saat dirinya masih anak-anak. Diakuinya, fantasi itu tetap menguasai pemikirannya saat dewasa. Itulah mengapa profesi sebagai ilustrator majalah anak-anak besutan Arswendo Atmowiloto, Ino, menjadi pilihan yang dilakoni Lully usai lulus dari Jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Semarang dan Fakultas Hukum Universitas Semarang.
Bahkan fantasi itu kini sengaja dicari siapa pun karena hal itu sangat dibutuhkan. Lully meyakini bahwa orang dewasa yang sedang menghadapi dan mengatasi berbagai problem dalam hidupnya yang kompleks, sangat membutuhkan fantasi.
Seperti anak-anak, orang dewasa ini bisa memperlakukan fantasi itu sebagai ruang untuk masuk ke dunia baru di antara kegagalan, kekalahan, pengkhianatan, dan kekecewaan dalam hidup.
Maka tak heran jika dalam lukisannya ada aneka rupa makhluk bertebaran di sana sini. Ada figur perempuan, rumah, binatang, pepohonan hingga objek lain yang muncul dalam berbagai bentuk dan perubahannya.
Ada pula objek berupa hati, jamur, zodiak, dan personifikasi peri dan makhluk jejadian versi Lully yang dikerjakan secara simultan.
Ada rumah di bawah laut, putri duyung, dan putri bertanduk rusa mengayuh perahu di saat malam bulan purnama bersinar adalah implementasi atas dunia mimpi dan fantasinya tentang kesempurnaan waktu terindah melihat, merasakan dan mencintai lautan.
Mereka lincah berseliweran seolah tak tentu arah. Hidup antar-ruang dan antar-waktu.
Semuanya dilukiskan seperti sedang dalam keadaan riang gembira, suka cita. Setiap figur maupun objek-objek tersebut pun terasa menempati dunia ramai nan damai, full aktivitas.
Heti Palestina Yunani pun sepakat dengan Mikke. Jika Mikke menyebutkan karya Lully adalah sebuah dunia imajinasi, Heti yang menulis pengantar untuk pameran lukisan bertajuk ‘Memanen Angin’ ini, menyebutkan bahwa karya Lully adalah dunia fantasi.
“Seperti melihat anak-anak yang tengah tenggelam dalam fantasinya, gaya lukisan Lully tak bisa dibedakan apakah itu kenyataan dan bukan kenyataan,” papar jurnalis dan penulis asal Surabaya itu. ap

















