Wujudkan Keluarga Bebas Stunting, Pemkot Surabaya dan Bunda Genre Kota Surabaya Libatkan Remaja, Rini Indriyani: Salah Satu Penyebab Stunting adalah Pernikahan Dini

0
499

Rini Indriyani, Bunda Genre Kota Surabaya di peringatan Hari Anak Nasional 2023.

iniSURABAYA.com – Dalam upaya menuju keluarga bebas stunting, Pemkot Surabaya bersama Bunda Generasi Berencana (Genre) Kota Surabaya terus menggencarkan promosi ketahanan keluarga yang berkaitan pada isu kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

Pemkot Surabaya bersama Bunda Genre Kota Surabaya melaunching kegiatan ‘Bahas Genre Bareng Pemuda Surabaya’ (Basreng Pedas), sekaligus mengukuhkan Insan Genre Kota Surabaya periode 2023-2024.

Kegiatan yang dirangkai dengan peringatan Hari Keluarga Nasional ke-30 dan Hari Anak Nasional Tahun 2023 ini digelar di Kecamatan Gayungan, Kamis (20/7/2023).

Pada kesempatan tersebut, juga diberikan pembekalan mengenai pentingnya kesiapan dan kematangan sebelum menikah, termasuk dampak negatif seks pranikah. Sebab, remaja berperan dalam pencegahan stunting melalui pembentukan sikap dan perilaku yang positif dalam pengembangan diri.

Baik secara mental, fisik, intelektual, spiritual, dan sosial. “Salah satu penyebab stunting adalah pernikahan yang terlalu dini. Melalui kegiatan ini, kami ingin lebih memantapkan kesadaran orang tua terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanganan stunting. Mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, menikah, hamil, dan seterusnya,” kata Rini Indriyani, Bunda Genre Kota Surabaya.

Rini Indriyani menyatakan, bahwa semua generasi muda di Kota Surabaya diharapkan memiliki pengetahuan, pemahaman, dan pengendalian diri dalam menyikapi perkembangan zaman yang terjadi.

“Pemuda atau remaja kita libatkan dalam penanganan stunting. Mereka kita siapkan menuju jenjang berkeluarga, dimulai dari pola hidup dia terlebih dahulu,” tegasnya.

Dia menerangkan, kegiatan tersebut untuk menyiapkan generasi berencana. Sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan, berkarir dalam pekerjaan, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksinya.

“Kita berikan pandangan agar mereka selektif dalam memilih pasangannya kelak. Mereka dibiasakan untuk merencanakan segala sesuatu sejak usia muda,” tutur Rini yang juga Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Surabaya ini.

Rini menandaskan, potensi para remaja tersebut akan terus dibina. Salah satunya adalah melalui Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) di Balai RW. Sebab, potensi mereka untuk menghidupkan Balai RW cukup besar.

“Mereka bisa mengajak anak-anak PAUD, TK, SD, dan SMP dengan mengadakan permainan yang menyenangkan. Tidak hanya di rumah bermain gadget, tetapi bisa bersosialisasi dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Itu adalah salah satu fungsi dari Generasi Berencana, yaitu ikut terlibat dalam penanganan stunting,” imbuhnya.

Sementara itu, Ida Widayati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-P2KB) Surabaya mengatakan tujuan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, serta sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya.

Di sisi lain, lanjut Ida, juga menyiapkan kehidupan keluarga sesuai dengan yang mereka rencanakan. “Kegiatan ini dilakukan di lima titik lokasi yang diikuti oleh remaja di kecamatan se-Surabaya,” bebernya.

Untuk wilayah Surabaya Selatan titiknya di wilayah Kecamatan Gayungan, kemudian Surabaya Pusat dilaksanakan di GNI, Surabaya Timur di kantor Kecamatan Rungkut, Surabaya Utara di Kecamatan Bulak, dan Surabaya Barat rencananya di Gedung Pandansari daerah Benowo.

“Saat ini kegiatan ini diikuti oleh 400 remaja dan orang tua remaja,” katanya. Ida mengaku bahwa Insan Genre memiliki peran penting dalam membantu Pemkot Surabaya mewujudkan keluarga bebas stunting.

Mereka telah memahami penyebab dari adanya stunting, seperti pola asuh yang salah maupun penyakit bawaan yang dimiliki oleh sang anak. “Mereka akan turun ke Balai RW untuk sosialisasi kepada anak dan orangtua, bagaimana pola asuh yang tepat untuk anak, serta mencegah terjadinya salah pergaulan. Pendekatan-pendekatan pada anak bisa sebagai konselor sebaya,” pungkasnya. wid

Comments are closed.