
Contoh lain film ‘Pedjoeang’ (1960), film perang Indonesia yang mengangkat tema perjuangan kemerdekaan. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia.
Yang agak baru adalah ‘Preman Pensiun’ (2019), drama komedi yang mengangkat tema kehidupan preman. Film ini dapat diartikan sebagai cerminan realitas kehidupan di masyarakat Indonesia.
Kemudian ‘Ngeri-Ngeri Sedap’ (2022), drama komedi yang mengangkat tema keluarga. “Film ini dapat diartikan sebagai cerminan dari nilai-nilai keluarga yang kuat dalam masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Film di ranah industri budaya merupakan usaha hiburan yang bergerak dengan logika pasar. Demikian pula industri perfilman di Indonesia. Di era ini industri film telah dikomodifikasikan melalui pertimbangan logika film ekonomi media.
Wujud inspirasi karya film Indonesia didominasi dalam perhitungan bisnis yang terkesan dipaksakan. “Realitas sosial, fakta dan tema pengangkatan cerita dari adaptasi novel, persaudaraan keluarga sehingga begitu populer, dan juga produsen film meremake ulang film jadul (jaman dulu) yang telah populer di eranya kemudian dibuat ulang dengan penyegaran cerita dan aktor baru namun tidak menghilangkan substansi dari ciri khas film awal,” kata Aulia.
















