
Hariono Santoso
“Lalu saya minta tolong cucu saya untuk membantu mengumpulkan postingan di FB dan memindahkan ke dalam format pdf. Dan cerita bersambung di FB itu saya beri judul ‘Halimun Biru di Singosari’,” ujarnya.
Sedangkan di logi kedua, ia tulis tangan menggunakan pulpen di buku mulai bulan Juni 2022 selama sekitar dua bulan. Kemudian naskah di buku itu ia tulis ulang di ponsel sambil melakukan koreksi naskah di sana-sini, dan baru selesai pada awal November 2022.
Kemudian Cak Ono minta tolong lagi pada cucunya untuk memindahkan ke format pdf di komputer. “Saya tidak punya laptop, dan termasuk gagap teknologi,” kata lulusan S2 Administrasi Publik Untag Surabaya ini.
Kedisiplinan dan motivasi yang kuat membuahkan karya novel yang istimewa. Motivasinya makin kuat dan sedang bersiap untuk menulis sekuel kisah ketiga.
Kini arek Suroboyo ini menikmati masa pensiunnya di Surabaya bersama sang istri tercinta, Wati Hariono, yang telah memberinya dua orang anak dan dua orang cucu (satu cucu meninggal dunia).
















