
Octdy juga berharap pihak rumah sakit atau klinik memahami kondisi asuransi yang selama ini mengirim pasien. “Jika tahu kondisi masing-masing, maka ada kolaborasi pihak rumah sakit dan asuransi maupun perusahaan, jumlah pasien tentu meningkat lagi,” imbuhnya.
Octdy yang pernah bertugas sebagai Operations Manager RS Premier Surabaya ini menyatakan, pembiayaan tinggi terjadi di antaranya lantaran management rumah sakit/klinik berusaha meningkatkan pelayanan dengan datangkan peralatan mahal.
“Intinya, jika mau investasi, pihak rumah sakit harus berpikir 2-3 kali. Investasi yang dilakukan bisa berapa lama dan siapa yang akan ‘beli’. Jika alat itu untuk pasien yang bayar cash, memang semua (pasien) bisa bayar cash? Pihak management rumah sakit harus mikir!” tegasnya.
Octdy berulang kali menekankan bahwa rumah sakit/klinik harus bisa mengontrol pembiayaan yang ‘masuk akal’. Karena kesan masyarakat selama ini, berobat ke rumah sakit/klinik itu sangat mahal.
Octdy juga menyoroti pertimbangan management memberlakukan biaya perawatan bagi pasien itu tidak hanya soal peralatan yang digunakan, melainkan juga dokter. “Rumah sakit harus bicara dengan dokternya. Harus ada kesepakatan, berapa sih (biaya) yang tepat untuk dokter, sewa alat, dan ruangan,” paparnya.
Jika pertimbangan tersebut bisa dilakukan dengan tepat, maka dari sisi medis bisa menerapkan harga wajar bagi pasien. “Kalau misal tidak perlu di-rontgen atau di-CT scan, ya gak perlu di-rontgen atau CT scan. Karena untuk sekali CT scan biayanya sampai Rp 3-4 juta. Belum biaya perawatan lain. Jangan pokoke semua harus di-rontgen CT scan, mumet yang bayar!” urainya.
















