
Kampung Legenda di Surabaya Barat. (foto: dok Humas Pemkot Surabaya)
Karena itu, pihaknya menjadikan Kampung Legenda bukan sekadar destinasi wisata tetapi juga sarana edukasi sejarah. “Dari kegelisahan itu, kami mengkonsep satu wilayah yang bisa berdikari secara ekonomi dan berkarya di bidang budaya,” urainya.
Artinya, lanjut Wawan, dengan budaya yang dimiliki memperkenalkan ke anak muda, sehingga mereka bisa belajar dan sekaligus membuat kontennya.
Wawan menegaskan, selain keunikan sejarah yang ditampilkan. Pasar UMKM yang dihadirkan juga memiliki keunikan tersendiri, para pembeli yang ingin melakukan transaksi perniagaan harus menukar uangnya dengan kepeng.
Hal ini bertujuan agar pengunjung bisa semakin merasakan nuansa masa lalu. “Untuk pasar dibuka di minggu pertama dan ketiga setiap bulan,” tuturnya. Wawan menyatakan,”Untuk pembayaran menggunakan kepeng masih kami lakukan uji coba dan evaluasi. Nantinya, apa yang paling baik akan kami terapkan, pembayaran menggunakan uang atau kepeng.”
Wawan mengatakan, setiap pasar dibuka di akhir pekan suasana Kampung Legenda begitu ramai dan guyup. Tak jarang, warga dan wisatawan berkumpul untuk menikmati suasana kampung sambil menyantap kuliner khas UMKM yang dijajakan di sepanjang gang.















