Dirilis Tepat 1 April, ‘Setelah Tanpa Deadline’ Jadi Ajang Silaturahmi Para Mantan Wartawan Surabaya Post

0
1492

A Azis dan Toety Azis, pendiri Harian Sore Surabaya Post. (foto: IST)

Jurnalisme adalah cara kita menjalani proses pembudayaan (civilization) diri sendiri maupun pembacanya. Harus tercipta serangkaian proses mendidik masyarakat dengan jujur, santun, akurat, dan rendah hati.

Tjuk menekankan, berita bukan sekadar menu untuk perut, melainkan santapan otak dan rokhani.

Dan SP, kata Tjuk, waktu itu memilih jurnalisme yang peduli, berempati dan rendah hati, semata didorong kesadaran wartawan sebagai penghidang berita, bukanlah manusia tanpa cacat. Bahwa di luar sana selalu ada yang lebih baik.

“Wartawan, sebagaimana profesi lainnya, terbebani dan bahkan terbentuk oleh perilaku sehari-hari,” kata Tjuk Suwarsono, salah satu anggota Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT) yang membawahi Stikosa-AWS.

Hal senada dilontarkan M Anis. Wartawan senior SP yang dulu laporan-laporannya dikenal sangat fenomenal dalam catatan pengantarnya mengatakan, sebenarnya silaturahmi yang dimaksud di dalam buku puisi ini lebih merujuk kepada silaturahmi intelektual.

1 2 3 4

Comments are closed.