Dirilis Tepat 1 April, ‘Setelah Tanpa Deadline’ Jadi Ajang Silaturahmi Para Mantan Wartawan Surabaya Post

Para mantan wartawan Harian Surabaya Post kumpul bikin antologi puisi.
“Silaturahmi ini kebiasaan yang dulu selalu dilakukan para wartawan SP,” tegas Anis yang sebelum menjadi wartawan dikenal pula sebagai penyair.
Mengenai relasi antara berita dan puisi, lanjut Anis, puisi itu seperti sebongkah batu. “Agar lebih tepat menggambarkannya, dalam bahasa Jawa yaitu wungkul, utuh, sekaligus personal,” urainya.
Sedangkan berita seperti sebongkah tanah liat. Bisa dibentuk apa pun, asal masih dalam koridor kaidah jurnalistik. Bahkan bisa dikerjakan beramai-ramai.
“Bagi penyair, menulis puisi tidak sesulit menulis berita. Bagi wartawan, menulis berita tidak sesulit menulis puisi. Tetapi bagi saya, sungguh, menulis catatan pengantar ini ternyata jauh lebih sulit dari keduanya. Jadi harap maklum,” ujarnya bercanda.
Bagi pemerhati sastra yang ingin mengoleksi Antologi Puisi Surabaya Post ‘Setelah Tanpa Deadline’ dapat menghubungi Imung Mulyanto WA 08123521100 dengan transfer ganti cetak dan ongkir sebesar Rp100.000. ap

















