
Joko Anwar (kanan) didampingi Morgan Oey dan Omara Esteghlal saat diskusi dengan penonton di Stuio XXI Royal Plaza Surabaya.
Joko Anwar yang juga bertindak sebagai penulis skenario menyatakan, ‘Pengepungan di Bukit Duri’ menjadi potret diri bagi bangsa ini, dan sekaligus pengingat untuk terus bercermin.
“Film ini membawa isu yang sangat urgen dan penting agar mata kita terbuka sehingga bisa mulai berpikir dan tercerahkan,” cetusnya.
‘Pengepungan di Bukit Duri’, lanjut Joko Anwar, mengajak penonton untuk membuka pikiran tentang kekerasan yang bisa dibicarakan dengan secara terbuka. “Film ini bukan tentang masa lalu. Tetapi tentang apa yang terjadi ketika kita pura-pura lupa,” imbuhnya.
Kadang, kata Joko Anwar, yang paling menakutkan bukan kekerasan itu sendiri. Tetapi sistem yang membiarkannya tumbuh. “Kami menghadirkan film ini dengan standar produksi tertinggi—karena cerita seperti ini layak disampaikan dengan sepenuh kualitas,” kata Tia Hasibuan, produser ‘Pengepungan di Bukit Duri’.
Guru SMA Duri
‘Pengepungan di Bukit Duri’ mengikuti kisah Edwin (Morgan Oey). Sebelum kakaknya meninggal, Edwin berjanji untuk menemukan anak kakaknya yang hilang.

















