
Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya didampingi Ikhsan, Kepala Inspektorat Kota Surabaya saat sidak di Kantor Kelurahan Kebraon. (foto: Diskominfo Kota Surabaya)
Mantan Kepala Bappeko Surabaya ini menekankan, pemimpin seperti lurah dan camat harus mampu memberi contoh disiplin bagi anak buahnya. Jika tidak, maka pelayanan publik akan berantakan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah ikut hilang.
“Kalau kalian dikasih jabatan sebagai pemimpin, kasih contoh (baik) anak buahnya. Jadi pemimpin tak bisa kasih contoh anak buahnya, ajur (rusak) ini pemerintahan,” kata pria yang akrab disapa Cak Eri ini.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan soal kedisiplinan pegawai, termasuk soal penggunaan sandal saat jam kerja. “Kalau datang sebelum pukul 07.30 pakai sandal terus ganti sepatu silakan. Tapi kalau datang 07.30 pakai sandal, harusnya (pegawai) diberi sanksi,” tandasnya.
Selain soal kedisiplinan, Cak Eri juga menegaskan tidak akan memberi toleransi lagi terhadap praktik pungutan liar (pungli) di jajaran Pemkot Surabaya. Untuk mencegah hal tersebut, ia meminta seluruh kepala PD hingga staf membuat surat pernyataan.
“Setelah hari ini sampai ada pungli di tempat kalian, lurah, camat dan kepala dinas saya copot. Saya tidak akan memberikan maaf setelah hari ini kalau masih ada pungli. Saya copot lurah, camat dan kepala dinasnya, karena tidak bisa memimpin anak buahnya,” pungkasnya. wid
















