
Menurut Bunda Rini, inisiatif ini bertujuan mematahkan stigma bahwa batik hanya busana bagi kalangan senior atau terbatas pada acara formal. Ia ingin menanamkan pemahaman bahwa batik Surabaya sangat fleksibel, dapat didesain menjadi busana fashionable yang sesuai dengan selera dan gaya hidup anak muda.
Guna mewujudkan hal tersebut, Bunda Rini menyebut kolaborasi sebagai kunci utama. Para pengrajin batik didorong untuk bersinergi dengan desainer. Tujuannya, agar kain batik tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi busana siap pakai yang memiliki nilai jual serta estetika tinggi.
Regenerasi Perajin Batik
“Di sisi lain, regenerasi menjadi tantangan tersendiri. Kami menyadari, mengajak anak muda menjadi perajin batik bukanlah hal mudah. Proses membatik membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan jiwa seni mendalam sesuatu yang kerap bertolak belakang dengan budaya serba instan saat ini,” tuturnya.
Karena itu, pendekatan dilakukan melalui dua strategi, yakni memberikan pelatihan teknis bagi mereka yang memiliki passion membatik, serta menggencarkan sosialisasi penggunaan batik modis agar timbul rasa bangga saat memakannya.
“Jika generasi tua telah tiada, anak cucu kitalah yang harus menjaga nyala api warisan ini agar tidak punah,” imbuhnya.
















