
[Ki-Ka] Amanda Simandjutak, Dr. Laksmi Dewi, M.Pd., Dian Sastrowardoyo, Rina Suryani. (foto: dok)
Sebagai bagian dari rangkaian Demo Day, berlangsung pula diskusi bertajuk ‘Kekuatan Perempuan dalam Transformasi Profesi di Era AI’ yang menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Yayasan Dian Sastrowardoyo, dan IBM Indonesia.
Diskusi ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan jalur yang jelas bagi perempuan agar dapat mengembangkan karier di bidang teknologi dan memperluas dampak sosialnya di komunitas. Hal ini penting untuk memastikan suara perempuan didengar dalam pengembangan dan penerapan AI, agar teknologi yang dihasilkan bersifat ramah gender, adil, dan memberikan manfaat sosial yang luas.
“Di era disrupsi digital, kepemimpinan perempuan sangat dibutuhkan karena mereka membawa empati, kepekaan sosial, dan cara pandang yang melengkapi kecerdasan teknis dalam pengambilan keputusan teknologi,” kata Dian Sastrowardoyo, Founder Yayasan Dian Sastrowardoyo.
Dian menekankan bahwa perempuan harus menjadi navigator perubahan, berani belajar hal baru dan mengambil peran penting agar masa depan digital tidak dibangun dari perspektif yang sempit dan tidak beragam. “Tetapi relevan, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan memberikan akses dan pelatihan digital, Perempuan Inovasi menghilangkan salah satu hambatan terbesar bagi perempuan untuk bergerak di dunia teknologi. Bukan hanya hambatan pendidikan formal, tetapi juga hambatan kepercayaan diri dan akses ke komunitas.
Dengan begitu, peserta program menjadi agen transformasi dan tidak hanya ikut di dalam perubahan, tetapi aktif membentuknya. Kolaborasi strategis antara pemerintah, komunitas, organisasi non-profit, dan pelaku industri adalah fondasi utama untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar membuka pintu bagi perempuan di STEM. ana
















