Catatan Khusus Hamid Nabhan untuk Lagu ‘Flowers in December’: Ketika Kita Sama-sama Bisa Lupa Diri

0
36


Ia mengajak kita merasakan kesedihan yang bersih, rasa sedih yang melepaskan beban, bukan yang menindas. Lagu ini ada untuk direnungkan, untuk diam, dan mengingat kembali apa yang pernah kita miliki dan mungkin pernah kita sia‑siakan.

Inti dari semua cerita dan makna mendalam ini sudah terangkum sempurna pada nama lagunya itu sendiri. Desember, di mana pun tempatnya, selalu identik dengan dingin, kering, tandus, dan akhir masa.

Saat alam berhenti mekar, saat segalanya tampak beristirahat atau mati suri. Lalu, apa artinya ada bunga yang hadir, tumbuh, atau dikirimkan di waktu seperti itu? Ini adalah kiasan besar dan indah: keindahan, kasih sayang, atau harapan yang muncul justru di saat hubungan sudah dingin, sudah renggang, atau hampir berakhir.

Bunga yang tumbuh di tempat yang seharusnya tak mungkin berbunga. Persis seperti rasa cinta yang masih ada dan tak mau mati, padahal segalanya sudah tak sama lagi.

Liriknya pun bercerita jujur dan apa adanya, seolah menjadi lembaran pengakuan dosa dari seseorang yang sadar dirinya tak sempurna dan punya banyak kekurangan. Dia mulai dengan kalimat yang langsung menyentuh: “Sebelum aku mengecewakanmu lagi, aku hanya ingin menatap matamu.”

Di situ terlihat jelas kesadaran diri: dia tahu dia pernah salah, dia tahu dia pernah menyakiti, dan dia takut …*

1 2 3

Comments are closed.