
Heti Palestina Yunani, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029 . (foto: Diskominfo)
Sementara bidang kedua adalah penelitian dan kebijakan yang akan menjadi dasar arah pengembangan budaya di Surabaya. “Kalau penelitian ini kan selama ini tidak pernah dilakukan oleh teman-teman di dewan kesenian, misalkan. Itu justru yang akan membuat arah kebijakan Pak Wali Kota ini benar berdasarkan dari hasil penelitian,” paparnya.
Hasil penelitian, kata Heti, akan menentukan prioritas pengembangan budaya, mulai dari pelestarian aksara Jawa hingga bentuk pengembangan ludruk yang sesuai karakter Surabaya. “Misalkan kenapa kita tidak mendahulukan perkembangan aksara Jawa. Lalu ludruk itu pada apanya, apakah jula-juli-nya, apakah mengembangkan pentasnya. Nah, itu (nanti) berasal dari hasil penelitian,” ucapnya.
Libatkan Masyarakat hingga Tingkat Kelurahan
Ia juga memastikan bahwa penelitian budaya akan melibatkan masyarakat hingga tingkat kelurahan agar potensi budaya lokal dapat dipetakan secara menyeluruh. “Penelitian itu nanti melibatkan sampai ke tingkat kelurahan, karena merekalah yang mengetahui bahwa di situ (wilayah setempat) ada (potensi) apa,” tandasnya.
Heti menilai pendekatan berbasis riset akan membuat program kebudayaan lebih tepat sasaran dan tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan acara semata. “Berbeda dengan yang dahulu, yang hanya mungkin ya kalau ada teater dipentaskan. Kita tidak di acara. Tidak di event,” tuturnya.
Sementara itu, Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya menyatakan, kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai seni pertunjukan, tetapi juga berkaitan dengan karakter masyarakat serta ruang ekspresi kreatif warga Surabaya.
















