
Marilyn Monroe (foto: IST/generate AI)
Marilyn juga dikenal sebagai pejuang anti-rasisme yang gigih dan tidak kenal takut. Ia berani menggunakan pengaruh besarnya untuk meruntuhkan sekat diskriminasi rasial yang ketat saat itu, salah satunya dengan membuka jalan bagi penyanyi Ella Fitzgerald agar bisa tampil di tempat-tempat yang dulunya tertutup bagi orang kulit hitam.
Ia juga berdiri tegak menentang ketakutan yang melanda masa perburuan lawan politik di era McCarthy, terbukti nyata saat ia menikah dengan penulis naskah Arthur Miller yang saat itu masuk daftar hitam dan dilarang berkarya.
Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan yang dialami Marilyn adalah pertemuan antara penindasan kelas dan kekuasaan laki-laki yang menindas.
Dia adalah pekerja yang tenaga kerjanya adalah tubuhnya sendiri, yang dieksploitasi secara berlebihan oleh sistem yang menuntutnya selalu tampil cantik mempesona namun harus tetap diam dan patuh.
Sepanjang hidupnya yang singkat, ia sebenarnya terus melakukan perlawanan senyap namun tegas, menentang cara sistem kapitalis memandang dan memperlakukan tubuh wanita semata-mata sebagai objek pemuas semata.
Maka di peringatan seratus tahun kelahirannya ini, kita tidak sedang merayakan sosok ‘wanita seksi’ yang sering digembar-gemborkan dunia. Kita justru sedang menghormati sosok wanita sosialis yang berpikiran jernih, yang sangat paham betul bahwa kebebasan kelas pekerja tidak bisa dipisahkan dari kebebasan kaum wanita.
Dan perjuangan yang ia mulai dengan keberanian itu masih terus berlanjut hingga hari ini. *
[Penulis: Hamid Nabhan: seniman senior Surabaya]

















