
Sebanyak 25 perupa ambil bagian dalam pameran ini. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Gresik, Banyuwangi, hingga Bali. Menariknya, salah satu peserta juga berdomisili di Singapura sehingga menghadirkan perspektif lintas wilayah dan budaya dalam satu ruang pamer yang sama.
Keragaman latar belakang tersebut melahirkan karya-karya dengan karakter yang berbeda. Pengunjung akan menemukan berbagai pendekatan artistik, mulai dari realisme, ekspresionisme, dekoratif hingga karya-karya dengan sentuhan kontemporer yang merepresentasikan perkembangan seni rupa masa kini.
Tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya, Long Street juga menjadi ruang dialog antargenerasi. Perupa senior yang telah puluhan tahun berkarya hadir berdampingan dengan seniman muda yang tengah mencari bentuk dan identitas artistiknya.
Melalui pertemuan itu, Komperta ingin menunjukkan bahwa seni rupa selalu bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar pengalaman yang membentuknya.
Lebih dari sekadar pameran, Long Street mengajak pengunjung merenungkan perjalanan hidup manusia itu sendiri. Tentang bagaimana setiap langkah, pengalaman, dan perjumpaan pada akhirnya menjadi bagian dari mozaik besar yang membentuk kreativitas, kebudayaan, dan kehidupan.
Sebab pada akhirnya, setiap orang memiliki jalan panjangnya masing-masing. Dan seperti karya seni, perjalanan itu tak pernah benar-benar selesai. */ana/ap
















