Hampir Hilang Ditelan Zaman, Sejarah Akademi Seni Rupa Surabaya Akhirnya Diabadikan dalam Sebuah Buku

Hamid Nabhan
Selain memuat hasil riset, buku setebal 130 halaman tersebut juga diperkaya tulisan sejumlah tokoh seni, di antaranya almarhum Makhfoed, Nurzulis Koto, Nunung WS, serta kata pengantar dari akademisi Universitas Airlangga, Hotman M. Siahaan.
Dalam pengantarnya yang berjudul ‘Aksera: Intuisi Minoritas Kreatif yang Tersia-sia’, Hotman menilai Aksera telah meninggalkan jejak penting dalam perkembangan seni rupa Surabaya, meski kini keberadaannya tinggal menjadi bagian dari sejarah.
Menurutnya, generasi baru mungkin hanya mengenal nama Aksera melalui cerita para perupa senior atau diskusi di ruang-ruang pameran. Namun, lembaga sederhana itu pernah menjadi fondasi lahirnya kehidupan seni rupa modern di Kota Pahlawan.
“Aksera telah menancapkan pilar penting bagi perkembangan kesenian di Surabaya. Jejak itu memang tidak lagi tampak secara fisik, tetapi nilai dan semangat kreatifnya tetap hidup melalui karya para alumninya,” tulis Hotman.
Hamid berharap penerbitan ulang buku ini dapat memperkenalkan kembali sejarah Aksera kepada generasi muda, sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan seni rupa Surabaya dibangun oleh banyak tokoh yang layak dikenang.
“Kalau sejarah tidak segera ditulis, lama-kelamaan akan hilang bersama para pelakunya. Saya berharap buku ini menjadi pengingat bahwa Surabaya pernah memiliki lembaga seni yang melahirkan banyak perupa besar dan memberi warna bagi perkembangan seni rupa Indonesia,” pungkas Hamid. */ap
















