
Hamid Nabhan bersama pelukis Nasirun. (foto: dok/IST)
Tidak ada sekat atau aura keangkuhan, bagi mereka, ruang kesenian dan pertemanan adalah tempat di mana semua orang berdiri dalam kesetaraan yang tulus.
Di balik karya-karyanya yang sarat akan filosofi dan napas tradisi, almarhum meninggalkan warisan nilai yang begitu berharga tentang bagaimana kita memandang dan menjalani dunia kesenian.
Di dalam sebuah buku kenangan yang ia hadiahkan kepada saya lengkap dengan goresan sketsa khasnya dan juga kesan pada secarik kertas tertanggal 10 Oktober 2014, Nasirun menuliskan pesan singkat yang sarat makna: “Buat Hamid Nabhan, Kerja-kerja Seni”.
Pesan singkat tersebut bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan sebuah manifesto hidup. Sebuah pengingat bahwa seni menuntut ketekunan, kejujuran batin, dan kerja keras yang terus-menerus tanpa kenal lelah, suatu prinsip yang selalu dibuktikan sendiri melalui konsistensinya berkarya di studionya di Bantul sepanjang hidupnya.
Kini, raga sang maestro telah beristirahat untuk selamanya. Namun, ketulusan hatinya, kenangan perjumpaan yang hangat, serta semangat ‘kerja-kerja seni’ yang diwariskannya akan terus hidup abadi di dalam ingatan dan denyut kesenian kita.
Selamat jalan, Mas Nasirun. Terima kasih telah merawat dunia ini dengan ketulusan dan goresan keindahanmu. *
[Penulis Hamid Nabhan: pelukis dan penulis senior Surabaya]

















