
Jalan Tunjungan bukan hanya menjadi lokasi berlangsungnya acara, tetapi juga ruang yang mempertemukan sejarah, seni pertunjukan, dan kehidupan warga. (foto-foto: dok Diskominfo)
Di tengah suasana tersebut, pesan tentang perjuangan terasa lebih dekat. Sejarah yang biasanya hadir dalam buku atau pelajaran sekolah kembali diperkenalkan melalui panggung, pemain, dan keterlibatan anak-anak muda.
Pada akhirnya, ‘Refleksi Perobekan Bendera 2026’ tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada September 1945. “Bagi Surabaya, menjaga semangat perjuangan berarti memastikan api yang diwariskan para pendahulu tidak padam, melainkan diteruskan oleh generasi yang kini mulai mengambil bagian dalam cerita kotanya sendiri,” cetus Cak Eri. */ana/ap
















