
Jalan Tunjungan bukan hanya menjadi lokasi berlangsungnya acara, tetapi juga ruang yang mempertemukan sejarah, seni pertunjukan, dan kehidupan warga. (foto-foto: dok Diskominfo)
iniSURABAYA.com — Jalan Tunjungan yang selama ini lekat dengan aktivitas warga dan denyut kota, berubah menjadi panggung pertunjukan, Sabtu (26/9/2026). Pagi itu opera kolosal ‘Merah Putih Bertanya’ digelar acara ‘Refleksi Perobekan Bendera 2026’.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari agenda tahunan untuk mengenang kembali peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, pada 19 September 1945.
Refleksi tahun ini dihadiri Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, Rini Indriyani, Ketua TP PKK Kota Surabaya, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya, hingga anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).
Opera ‘Merah Putih Bertanya’ menjadi salah satu cara untuk membawa kembali semangat perjuangan ke tengah kehidupan kota. Sejarah tidak hanya dikenang melalui upacara, tetapi dihadirkan dalam bentuk pertunjukan yang dapat disaksikan bersama oleh masyarakat.
Merah Putih Tak Hanya Dikibarkan
Di kesempatan itu, Eri Cahyadi mengatakan ‘Refleksi Perobekan Bendera’ bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah. Ada semangat persatuan yang perlu terus dibawa dalam kehidupan masyarakat Surabaya saat ini.
















