
Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 diarahkan menjadi gerakan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga pasokan dan stabilitas harga komoditas. (foto: dok DIskominfo)
“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” tuturnya.
Sementara itu, Nanik Sukristina, Kepala DKPP Surabaya mengatakan, SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai ruang di kawasan perkotaan, mulai dari pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum hingga lahan yang belum termanfaatkan.
“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” tegasnya.
Tahun ini, SUFC memiliki empat kategori, yakni Urban Farming Terintegrasi atau Terpadu, Kuantitas Bawang Merah, Kuantitas Cabai Rawit, dan Urban Farming Pemula. Kategori urban farming terpadu menjadi pembeda karena menggabungkan pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.
Nanik menyatakan, pada kategori kelompok tani, peserta membudidayakan cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit, sementara media tanam serta perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta.
















