
Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 diarahkan menjadi gerakan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga pasokan dan stabilitas harga komoditas. (foto: dok DIskominfo)
Penanaman dan pemeliharaan dimulai 6 September 2026. Selama kompetisi, DKPP bersama stakeholder dan mitra pendukung melakukan monitoring serta pendampingan. Penilaian mencakup proses pemeliharaan dan produktivitas sesuai kategori, tidak hanya melihat hasil akhir.
“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” ujarnya.
Rangkaian SUFC dirancang agar panen berlangsung pada awal Desember. Momentum tersebut diharapkan menambah pasokan cabai dan bawang merah ketika permintaan masyarakat meningkat menjelang akhir tahun saat periode Natal dan Tahun Baru.
“Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah,” urainya.
Melalui pengembangan urban farming, Pemkot Surabaya mendorong lahan-lahan perkotaan menjadi lebih produktif sekaligus membangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga hingga kewilayahan.
“Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam terus berkembang dan memberikan manfaat setelah kompetisi berakhir,” pungkasnya. */ana/ap
















