
“Pola makan yang baik adalah pola makan yang beragam, bergizi, seimbang, aman, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Jadi, sumber protein bisa diperoleh dari berbagai jenis pangan,” ujarnya.
Ajakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah dinamika konsumsi pangan. Berdasarkan catatan survei harga konsumen BPS Kota Surabaya, pada Juli 2026 secara month-to-month (m-to-m) Kota Surabaya mengalami deflasi sebesar 0,22 persen.
Dalam periode tersebut, telur ayam ras dan daging ayam ras termasuk komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan konsumsi dan ketersediaan pangan dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, Nanik menilai masyarakat perlu memiliki kebiasaan mengonsumsi pangan yang beragam sehingga pilihan makanan keluarga tidak hanya terpusat pada komoditas tertentu.
“Diversifikasi pangan adalah membiasakan keluarga memiliki banyak pilihan. Hari ini bisa ikan, kemudian telur, tahu, tempe atau sumber protein lainnya. Ayam dan daging sapi tetap bisa dikonsumsi, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya pilihan,” tegasnya.
















