
‘Hasut’ membangun ketegangan melalui bisikan, kecurigaan, dan trauma masa lalu. (foto: dok/IST)
Ilya Sigma mengatakan film ini dibuat sebagai ruang refleksi bagi penonton untuk melihat kembali cara mereka berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
“Film Hasut ingin mengajak penonton untuk bercermin. Terkadang, kita tidak sadar apakah kata-kata kita menyakiti orang lain? Apakah tujuan egois yang ingin kita capai justru menyebabkan orang terdekat kita terluka? Aku harap film ini memantik empati kita kembali,” ungkap Ilya.
Pesan tersebut tercermin melalui karakter Vira, yang diperankan Karina Salim. Vira merupakan fasilitator healing yang merasa selalu mengetahui hal terbaik bagi adik dan sahabatnya.
Namun, keyakinan itu justru membuatnya berada di wilayah abu-abu antara kepedulian dan keinginan mengendalikan orang lain.
Menurut Karina, karakter Vira menggambarkan kecenderungan manusia untuk memaksakan pandangan pribadi dengan alasan ingin membantu.

















