
Acara yang kaya akan nilai sejarah ini dikemas melalui perpaduan seni peran, musik, dan napak tilas perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. (foto: dok Diskominfo)
Ibu Pertiwi Dikelilingi Laskar Putri
Salah satu adegan yang menyentuh hadir ketika Kolonel Sungkono menghampiri sosok Ibu Pertiwi yang dikelilingi Laskar Putri dan para ibu dari Dapur Umum. Di hadapan mereka, sang komandan bersimpuh memohon doa restu demi keselamatan para pejuang.
Rangkaian teatrikal tersebut membawa pesan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya dilakukan mereka yang berada di medan pertempuran. Dukungan kaum perempuan, para ibu, dan masyarakat juga menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.
Suasana semakin khidmat ketika Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya memimpin lantunan lagu Indonesia Raya. Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan bendera Merah Putih dari perwakilan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) kepada Eri Cahyadi yang memerankan Kolonel Sungkono.
Bendera kemudian diserahkan kepada Paskibraka Surabaya sebagai tanda dimulainya Parade Juang 2026.
Di hadapan ratusan ribu penonton, Eri mengajak masyarakat tidak melupakan keberanian arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945. Saat itu, rakyat Surabaya berjuang menghadapi pasukan Sekutu hingga menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby.
“Merdeka! Arek-arek Suroboyo, hari ini kita memperingati tanggal 10 November. Bagaimana arek-arek Suroboyo memukul mundur Sekutu dan menewaskan Mallaby. Maka perjuangan arek-arek Suroboyo jangan pernah kita lupakan,” serunya.
















