
Acara yang kaya akan nilai sejarah ini dikemas melalui perpaduan seni peran, musik, dan napak tilas perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. (foto: dok Diskominfo)
Namun, menurut Eri, perjuangan bangsa Indonesia belum sepenuhnya selesai. Jika dahulu musuh yang dihadapi adalah penjajah bersenjata, tantangan saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan sosial.
“Selagi ada kemiskinan, selagi masih ada anak putus sekolah, maka kita belum merdeka. Dibutuhkan kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya,” tegasnya.
Melalui tema Suroboyo Wani, Eri mengajak warga Surabaya berani mengambil peran sebagai pahlawan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus mengangkat senjata, setiap orang bisa berkontribusi melalui kepedulian terhadap lingkungan, kemanusiaan, dan persoalan sosial di sekitarnya.
Ia berharap semangat kepahlawanan tersebut menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, Pemkot Surabaya, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta seluruh pemangku kepentingan.
“Surabaya warganya luar biasa. Harapan kita, bagaimana semua bisa jadi pahlawan. Dikarenakan kita arek Suroboyo, dilahirkan punya jiwa pahlawan. Jadi masyarakat, ayo kita bersama menjadi pahlawan untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan anak putus sekolah, dan menjaga lingkungan,” ungkapnya.















