Pesona Burung Merak dan Ampyang Hiasi Busana Imlek di LaSalle College, Simak Detilnya yang Menawan Ini

0
2171
Warna-warni merah dengan kombinasi hiasan bunga dan burung merak menjadi suguhan desainer LaSalle College Surabaya untuk menyambut Tahun Baru Imlek kali ini.

iniSURABAYA.com – Warna merah masih dominan dalam busana khas Imlek. Dan agar baju yang dipakai saat pesta Imlek tampil menawan, maka desainer Natasya Wijaya menghadirkan ‘sosok’ burung merak dan bunga Sakura Tiongkok.

Tema ‘Through to Dynasties’ yang digunakan Natasya pada rancangannya kali ini diakui terinspirasi dari lukisan Tiongkok. “Busana ini perpaduan antara Tiongkok dan Eropa. Unsur China tampak pada kerah Shanghai dan motifnya. Sementara unsur Eropa pada bagian yang terbuka seperti pada punggung,” ungkap Natasya kepada iniSurabaya.com.

Desainer yang menamatkan studinya di LaSalle College Surabaya pada 2019 itu menambahkan, busana yang ala mermaid tersebut mengusung motif burung dan bunga sakura China dengan teknik bordir.

Pada satu baju, ia menghadirkan burung merak berwarna biru ke arah tosca. “Burung merak melambangkan cinta, pesona, dan kecantikan. Kita tahu bahwa burung merak memiliki bulu yang mengundang kekaguman siapa pun yang melihatnya,” tuturnya.

Pada kreasi baju lainnya, Natasya menampilkan burung kolibri atau hummingbird berwarna hijau. “Burung tersebut merupakan lambang keberuntungan,” tegasnya.

Menurut Natasya, dua busana rancangannya tersebut menggunakan material duchess. “Bahan ini  cocok untuk busana yang bentuknya mermaid. Selain itu juga memberi tampilan lebih mewah dan tidak terlalu mengkilap,” imbuh Natasya yang alumnus Jurusan Fashion Design LaSalle College Surabaya.

Pada kesempatan yang sama juga diperagakan busana rancangan desainer Embran Nawawi. Khusus untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2571, Embran mengangkat warna oranye pada busana berpotongan pendek di atas lutut tersebut.

Embran menandaskan, lewat karyanya itu dia coba menyuguhkan konsep humanity yang mengkolaborasikan budaya Tiongkok dan Jawa. “Saya mengusung konsep ampyang, merujuk kue perpaduan kacang China dan gula Jawa. Detail cheongsam saya hadirkan pada bolero. Saya padukan dengan motif batik Pamekasan,” urainya.

Potongan busana Embran berbentuk garis melingkar atau twisting. Alasannya,  dia ingin menunjukan perpaduan antara dua hal berbeda sehingga jadi menarik.

“Membuat twisting termasuk dalam high fashion. Ini juga menjadi tantangan bagi saya untuk menjadikannya busana ready to wear namun tetap sustainable,” paparnya.

Sustainable yang ia usung, selain mengangkat humanity melalui konsep ampyang, juga melalui material yang digunakan.

“Saya memanfaatkan kain sutra dan batik. Keduanya merupakan bahan yang ramah lingkungan. Dalam mengolah sutra juga bukan hal yang gampang, diperlukan alat dan kemampuan yang mumpuni,” cetusnya. dit

Comments are closed.