‘7 Suns’: Cerita Larone tentang Ideologi Kematian, Akhirat dan Cinta yang Paradoks

0
589

Larone

iniSURABAYA.com – Setelah merilis ‘Life:Fears+Hopes Ep Trilogy’ dan debut buku aforismenya, ‘Seorang Diri (?): The Book Of Paradox (Phase 1:The Prologue)’ pada tahun 2022, seniman multidisiplin pendatang baru Larone mengumumkan single terbarunya berjudul ‘7 Suns’.

Komposisi sebagai starter untuk EP Trilogi berikutnya ini berbicara tentang pengalaman mempertanyakan esensi hidup dalam realitas yang mendorongnya ke dalam kritik pemahaman cinta dan signifikansi kematian melalui getaran emosional-kegelisahan yang berayun dan melankolis.

“Pada suatu hari ketika ada seorang anak kecil yang menginginkan kehidupan dunia. Tidak lama kemudian dia mendapatkannya, lalu dibawalah olehnya dan tidak pernah bisa lari daripadanya!” tutur Larone berkisah mengenai pesan yang ingin disampaikan lewat karyanya tersebut.

Single ini menceritakan sebuah cerita perjalanan seorang anak kecil 10 tahun, Saprol, yang tersesat terjebak di dalam dunia imajinernya akibat dari pertanyaan-pertanyaan  eksistensialnya yang sering muncul ketika bersepeda sepulangnya dari sekolah, yang mulai menyentuh sebuah ideologi kematian setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya akibat kecelakaan tragis yang dia alami.

Pertanyaan-Pertanyaan eksistensial itu seringkali muncul ketika bersepeda sepulang sekolah seperti pertanyaan, ‘Apa yang dialami oleh ayah dan ibuku saat ini?’, ‘Dimanakah mereka?’, ‘Seperti apa wujud alam kematian itu?’, ‘Ke arah mana kita akan pergi setelah mati? Barat? Timur? Utara apa Selatan?’.

Kesedihan yang amat sangat mendalam yang dialaminya membuat Saprol tidak dapat lepas dari pikiran dan dunia imajinasinya sendiri sehingga ia hidup di dalamnya dan tidak dapat menghindar atau lari dari imajinasi-imajinasinya karena ayah dan ibu Saprol selalu mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang sempurna dan bahagia tetapi sayangnya tidak bagi Saprol.

Karena ia tidak pernah merasakan perasaan-perasaan  itu secara nyata. Malah sebaliknya Saprol justru melihat kehidupan dunia sebagai distopia dan ia tidak dapat mengindar dari kenyataan distopia tersebut.

Di tingkat keheningan tertentu, Saprol akhirnya menyaksikan realitas lain di dalam imajinasi-imajinasinya, yaitu realitas yang selama ini ia selalu bayangkan dengan jelas. Seperti yang ada di dalam artwork ‘7Suns’, terlihat anak kecil sedang menangis di ujung sebelah kiri hamparan bukit yang sangat luas dengan masih berseragam sekolah dan membelakangi orang-orang yang sedang berbaris menghadap tujuh matahari.

Komposisi ini mempunyai ambient lagu pop modern spiritual. Menariknya Larone justru banyak terinspirasi dari musisi metal, rock dan alternatif seperti Ghost, Northlane, Japanese House. Direkam selama beberapa bulan di studio kamar tidurnya. Musik menangkap kehebatan teknis dan jiwa vokalnya.

Sebagian besar berkat kolaboratornya Aji Suherri, yang memproduseri single ini bersama dia dan Ariesta Ilham/Lutfi Aulia sebagai pemain gitar. Lagu ‘7 Suns’ didorong oleh ketukan yang mengayun dan lirik yang metaforis dan ekstensif seperti,“is love a war?/ love never stop to fall / where are The Hidings?”.

Selain itu lagu ini diilustrasikan dalam artwork karya Reginald Taffy, disertai video lirik psyche yang disutradarai sendiri dan dianimasikan oleh Mukti Ali. ana

Comments are closed.