
iniSURABAYA.com | SIDOARJO – Siapa sangka segelas dawet yang selama ini identik dengan pasar tradisional mampu menembus pasar internasional.
Berbekal ketekunan, keberanian berinovasi, dan keyakinan pada produk lokal, Sophia Ratnasari berhasil membawa Queen Dawet dari usaha rumahan di Sidoarjo menjadi minuman kekinian yang kini hadir hingga Hong Kong.
Perjalanan itu tidak diraih dalam semalam. Selama tujuh tahun terakhir, perempuan kelahiran 1 Juni 1982 tersebut konsisten membangun Queen Dawet dari nol, bahkan ketika banyak orang meragukan minuman tradisional dapat bersaing dengan berbagai produk modern yang membanjiri pasar.
Berawal dari dapur rumah sederhana, Sophia merintis usahanya dengan modal terbatas dan fasilitas produksi yang jauh dari kata mewah. Hampir seluruh proses dikerjakannya sendiri, mulai dari meracik minuman, mengemas produk, mengantar pesanan hingga melayani pelanggan.
Saat itu, konsep ‘dawet kekinian’ belum banyak dikenal. Namun Sophia melihat peluang besar pada minuman warisan Nusantara tersebut. Ia memilih terus berinovasi tanpa meninggalkan karakter asli dawet yang sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia.
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menghadirkan Queen Dawet tanpa santan dan tanpa bahan pengawet. Meski demikian, cita rasa khas dawet tetap dipertahankan. Produk kemudian dikemas secara lebih modern sehingga praktis, sehat, dan sesuai gaya hidup konsumen masa kini.
















