Adriono, Penyunting Novel Gemblak Terakhir, Puji Karya Dua Jurnalis Senior: Kuat Merekam Memori Kolektif

0
0
Adriono, jurnalis senior Harian Sore Surabaya Post, penyunting novel karya Sasetya Wilutama dan Imung Mulyanto berjudul Gemblak Terakhir.

iniSURABAYA.com – Adriono, penyunting novel Gemblak Terakhir, mengatakan bahwa memori kolektif masyarakat memang dapat menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi lahirnya sebuah karya sastra.

Memori kolektif ini bisa dalam bentuk budaya masyarakat, kearifan lokal, legenda, dongeng, gugon tuhon, ataupun mitos. Semua harta karun itu dapat memberikan referensi, muatan falsafah, atau setidaknya memberi warna yang menarik dalam karya tulis.

Memori kolektif, menurut Adriono, bukan sekadar ingatan tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa lalu. Ia merupakan kumpulan pengalaman, pengetahuan, nilai, keyakinan, dan cerita yang hidup serta diwariskan di tengah masyarakat.

Karena terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ingatan tersebut kemudian menjadi bagian dari cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya.

Dalam konteks sastra, memori kolektif menjadi semacam bahan mentah yang sangat kaya. Penulis tidak harus menciptakan dunia dari ruang kosong. Ia dapat menggali sesuatu yang sudah hidup dalam ingatan masyarakat, kemudian mengolahnya menjadi cerita, konflik, karakter, maupun latar yang lebih segar.

Di situlah sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cara untuk menyimpan kembali pengalaman sebuah masyarakat.

Persoalannya, memori kolektif tidak selalu hadir dalam bentuk sejarah yang tertulis. Banyak di antaranya justru hidup melalui cerita lisan, kebiasaan, simbol, pantangan, istilah, kesenian, bahkan cerita yang oleh sebagian orang dianggap mitos.

Ketika semua itu masuk ke dalam karya sastra, pembaca tidak hanya berhadapan dengan cerita rekaan, tetapi juga berjumpa dengan serpihan pengalaman sosial yang pernah atau masih hidup di sekitarnya.

Dengan memanfaatkan memori kolektif, cerita fiksi dalam novel menjadi terasa nyata, tokoh-tokohnya tampak membumi, dan related dengan kehidupan serta alam pikiran pembaca. Banyak contoh karya sastra yang menggunakan latar budaya lokal.

Di antaranya yang masyhur adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang mengisahkan kehidupan penari ronggeng di tengah pusaran zaman. Ada lagi Para Priyayi karya Umar Kayam yang mengangkat kehidupan kaum priyayi di Jawa.

Lalu novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang diangkat menjadi seri televisi dan dibintangi Dian Sastrowardoyo, bertutur tentang adat Jawa Tengah dan industri rokok kretek. Tarian Bumi, novel karya Oka Rusmini, mempersoalkan tradisi kasta dan posisi perempuan dalam adat Bali yang kental.

Dunia film pun menggunakan “resep” yang sama. Contohnya film drama terbaru Reza Rahadian berjudul Pangku, juga menghadirkan kehidupan remang-remang warung kopi di kawasan Pantura dengan menyediakan perempuan yang boleh “dipangku”.

Novel karya Sasetya dan Imung mengangkat memori kolektif masyarakat Jawa, terutama di kawasan Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya, yang terkait dengan dunia warok dan gemblak.

Seperti diketahui, warok adalah pemimpin lokal informal, pendekar yang disegani, dan biasanya memiliki kelompok kesenian reog. Sedangkan gemblak adalah anak laki-laki yang “dipelihara” secara khusus oleh seorang warok. Peran dan makna gemblak cukup kompleks, mencakup aspek seni pertunjukan, simbol status, hingga isu sosial dan spiritual yang kontroversial.

“Nah, salah satu keberhasilan novel ini adalah kehadiran budaya warok maupun fenomena gemblak tidak sekadar tempelan semata, tetapi benar-benar menyatu (blended) dengan inti cerita yang disuguhkan,” ujarnya.

Di dalam Gemblak Terakhir ada problem relasi kuasa: tentang warok yang punya otoritas sekaligus sumber daya ekonomi, berhadapan dengan rakyat miskin yang konstan terjepit ekonomi. Seorang janda terpaksa melepas anak laki-lakinya yang masih belia, saat “dipinang” untuk dijadikan gemblak sang warok.

Ada juga dilema wartawan yang harus menyampaikan fakta kepada khalayak, tetapi dia harus melindungi teman sekolahnya yang ternyata mantan gemblak. Plus ada bumbu kriminalitas dan aksi adu kesaktian antarsesama warok, serta hubungan percintaan yang normal sekaligus yang abnormal.

Menurut Adriono, walhasil alur cerita dalam novel ini berliku dengan menarik. Cerita bergerak cepat, tidak berpanjang-panjang dalam uraian sastra, sehingga ritmenya tetap terjaga. Ini bikin pembaca jadi kepo, lantas enggan meletakkan buku sebelum bertemu kata tamat.

Gaya bahasanya yang populer dan ringan membuat buku ini enak dibaca. Nikmatnya serasa menyaksikan sinetron TV melalui kata-kata. “Saya pribadi sangat menikmati novel ini pada saat melakukan penyuntingan naskah. Saya yakin pembaca akan menemui kenikmatan yang sama saat membacanya,” ujarnya.

Bagi yang ingin memiliki novel terbitan MejaTamu, calon pembaca dapat menghubungi penulis Sasetya (088989387963) atau Imung (88989387963). Novel setebal 82 halaman dengan ukuran 14 cm x 20 cm ini bisa didapatkan dengan harga Rp75 ribu, termasuk ongkos kirim. (*)

Comments are closed.