Tekankan Efek Jera, Sanksi Denda Pelanggar Protokol Kesehatan di Kota Surabaya Bakal Ditingkatkan

ILUSTRASI: Corona Virus Disease (Covid) – 19

iniSURABAYA.com – Masyarakat, khususnya warga Kota Surabaya diminta untuk tidak main-main dengan penerapan protokol kesehatan (prokes). Dan demi kepatuhan terhadap pelaksanaan prokes tersebut Pemkot Surabaya bakal memberlakukan sanksi lebih berat.

Penerapan sanksi itu dituangkan dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait upaya pencegahan Covid-19 di Kota Surabaya.

Menurut M Fikser, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kota Surabaya, Perwali itu memuat tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan yang semakin ketat dari sebelumnya.

Bacaan Lainnya

“Besaran denda akan ditambah untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar protokol kesehatan,” tegas Fikser sebagaimana dikutip dari suarasurabaya.net.

Fikser menambahkan, Perwali tersebut saat ini sudah ada di Bagian Hukum Pemkot Surabaya. “Denda itu bukan untuk apa-apa, tapi untuk memberikan efek jera. Jadi Perwali itu isinya menyempurnakan 3M protokol kesehatan, dan yang diperbesar adalahnya dendanya,” tandasnya.

Berdasarkan hasil evaluasi dari sosialisasi Covid-19 selama ini, lanjut Fikser, sebagian besar masyarakat takut dikenakan denda dengan jumlah yang besar. Karena itu pula, penerapan besaran denda ini dibahas untuk memberikan efek jera.

Ditekankan oleh Fikser, denda ini bisa dikenakan untuk perorangan, pemilik usaha, atapun pelaksana kegiatan yang dinilai melanggar protokol kesehatan. Pihaknya berharap Perwali nantinya bisa menjadi perhatian masyarakat, mengingat kasus Covid-19 kembali meningkat signifikan.

“Kalau hanya diingatkan, diimbau, itu mereka kembali lagi. Maka dengan denda ini penekanannya. Kisaran dendanya sampai ratusan ribu. Saya belum tahu nilai pastinya. Tetapi penekanannya denda yang diperkuat. Jadi Pemkot akan memperkuat denda,” katanya.

Selain penguatan pada denda, lanjut Fikser, Swab Hunter akan kembali digencarkan. Kemudian, menerbitkan surat edaran agar masyarakat yang ke luar kota saat kembali ke Surabaya, untuk melakukan swab gratis di Labkesda. Sedangkan bagi warga KTP luar Surabaya, cukup membayar Rp 120.000.

“Bu Risma meminta tolong untuk libur Natal dan Tahun Baru ini agar masyarakat tidak kemana-mana dulu, tidak liburan. Kalau memang ada kepentingan mendesak, misalnya itu berkaitan dengan pekerjaan dan harus ke luar kota, diminta untuk melakukan swab,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil tracing, kata Fikser, 75 persen banyak ditemukan kasus Covid-19 pada warga yang tinggal di perumahan menengah atas dan mereka memang sering bepergian ke luar kota.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan sosialisasi protokol kesehatan secara masif melalui surat edaran. “Akan kembali kami gencarkan melalui surat edaran itu, meminta bantuan kepada RT, RW, dan warga,” paparnya. dit

Pos terkait