
Caudo lambat laun menjadi soto. “Kalau orang Makassar menyebutnya coto, dan orang Pekalongan menyebutnya tauto. Bahkan di beberapa daerah ada yang menyebutnya dengan sauto,” tutur Chef Danang.

Dia menambahkan, kuliner tradisional yang berkembang di abad 18-19 ini lalu membaur dengan pengaruh lokal dan banyak ragam budaya setempat.
Seperti misalnya ada campuran mi atau soun pada soto, karena masih kuat pengaruh tradisi China. Soto juga mendapat pengaruh budaya India karena ada beberapa soto yang menggunakan kunyit seperti kari di India.
Bumbu yang digunakan merupakan campuran cita rasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan perasan jeruk limau sebagai pelengkap. Serbuk koya yang juga sering disajikan bersama soto merupakan budaya kuliner Tionghoa peranakan.
Chef Danang bahkan menandaskan bahwa menu soto sudah sangat dikenal penikmat kuliner dunia. “Soto ini Indonesian traditional food yang sudah ‘mendunia’ selain nasi goreng dan rendang,” cetusnya.
Maka, ujar Chef Danang, sangat sayang jika masyarakat di Indonesia sendiri, khususnya warga Kota Surabay kurang banyak mengenal ragam soto.
Aneka ragam soto ini tersaji secara spesial di rombong-rombong yang ditata rapi di Café Taman hotel bintang 4 di pusat Kota Surabaya tersebut.
















