Kejar Capaian Angka Stunting 14%, Khofifah Ajak Masyarakat Jadi Bapak-Ibu Asuh untuk Asupan Gizi Bagi Balita dan Ibu Hamil Kurang Mampu

Dalam penanganan stunting di Jatim, terdapat dua macam intervensi. Yakni intervensi spesifik (bidang kesehatan) kontribusinya sebesar 30 persen dan intervensi sensitif (bidang non kesehatan) dengan kontribusi sebesar 70 persen.

“Kita terus melakukan berbagai upaya baik koordinasi lintas sektor, edukasi, konseling, dan koordinasi baik soal gizi, makanan bayi dan anak, pelaksanaan imunisasi, sampai dengan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita secara rutin di posyandu,” katanya.

Bacaan Lainnya

Edukasi dan konseling ini, lanjut Khofifah, dilakukan terkait pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia enam bulan. Kemudian setiap anak berusia 6-23 bulan mendapat makanan pendamping ASI, serta setiap balita dengan status gizi buruk mendapatkan penanganan tata laksana gizi buruk.

Koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait Tim Percepatan Penurunan Stunting juga terus dilakukan secara rutin.

Khofifah menekankan, imunisasi dasar lengkap dan suplementasi berupa vitamin A dan zinc sangat penting bagi bayi dan balita. Sedangkan bagi ibu hamil kecukupan zat besi dan folat juga harus terpenuhi, terutama pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita yang terindikasi stunting harus terus diperhatikan.

Menurut Khofifah, penyebab stunting ini diantaranya karena asupan gizi seimbang belum terpenuhi dan penyakit infeksi berulang. Untuk itu, dalam menangani masalah stunting ini pemberian asupan gizi seimbang dan stimulasi tumbuh kembang pada balita sangat penting. 

Pos terkait