
“Lagu ini tentang seseorang yang sedang berada di fase jatuh cinta. Rasa jatuh cinta tersebut nggak cuma bisa diartikan dengan pasangan, tetapi juga bisa dengan apa pun itu. Sesederhana, seperti Rr menuliskan lagu ini tentang Paris, kota itu sendiri,” ungkap Zhafari, sang vokalis.
Masih menampilkan pesona romantisme dalam penyajian musik seperti karya-karya sebelumnya, namun ‘Paris’ disajikan dengan warna berbeda. Tidak seperti karya sebelumnya, mini album ‘What the Night Will Be’ yang disajikan dengan nuansa pop, ‘Paris’ disajikan dengan meneruskan nuansa yang tengah dibangun sejak dirilisnya ‘Fences’ sebagai pembuka album perdana Voxxes mendatang.
Kalau mini album sebelumnya lebih pop gitar akustik 2000-an, sementara mulai dari ‘Fences’ arahnya lebih ke dance-pop. Jadi secara konsep sangat berbeda, dan ‘Paris’ menjadi bagian dari perkenalan album mendatang.
Mulai dari tema cinta, pengaruh musik tahun 80-an yang lebih didominasi synthesizer dibandingkan dengan gitar, jadi karya yang akan datang punya konsep dance pop nya lebih terasa,” ujar Zhafari.
Dalam proses kreatifnya, Voxxes memberikan perbaruan yang signifikan dalam penyajian musikalisasinya. Kali ini, Voxxes dipengaruhi oleh musik Pop-RnB dari tahun 80-an, mulai dari Michael Jackson, Toto, Daft Punk, hingga The Weekend.
Melalui ‘Paris’, pendengar akan dimanjakan beat-beat futuristik era 80-an dengan sentuhan synthesizer, bermanuevernya vokal, hingga permainan gitar yang dimodernisasi.
















