Menu Oriental-Jawa (3): Nian Gao di Jatim Disebut Kue Keranjang, di Jabar Dodol Cina, Kalau di Kotamu Cemilan Ini Punya Nama Apa?

iniSURABAYA.com – Hidangan Imlek tentu tak cuma menu makanan utama. Banyak ragam dessert sering ditemui dalam jamuan keluarga ternyata hasil akulturasi budaya Cina-Indonesia.

Untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2023, Danang Lukita, Executive Chef hotel menghadirkan menu-menu khas Tiongkok bagi tamu hotel bintang 4 di pusat Kota Surabaya itu. Hadirnya sajian di Surabaya Suites Hotel ini kian bermakna karena Chef Danang menyuguhkan menu racikannya lengkap dengan ‘kisah’ perjalanan menu tersebut.

Bacaan Lainnya

Berikut selengkapnya:
Tangyuan (Ronde)
Tang yuan dalam perayaan Tahun Baru Imlek memiliki filosofi dan makna sebagai pengikat atau perekat ikatan kekeluargaan, kekerabatan atau hubungan sosial. Pelafalan dan bentuk tang yuan yang bulat dikaitkan dengan reuni dan kebersamaan dalam tradisi Tiongkok, seperti dilansir dari China Highlights.

Apalagi sifat tepung ketan yang menjadi bahan utama yan lengket dan liat saat ditarik, menunjukkan betapa eratnya ikatan yang bisa dibangun antar anggota keluarga atau kerabat seperti layaknya bola-bola tang yuan yang kenyal.

Wedang ronde mungkin lebih dikenal sebagai kudapan manis berkuah jahe khas Jawa. Namun tak banyak yang tahu bahwa ternyata ronde adalah makanan khas Tiongkok yang memang dibawa dan diperkenalkan oleh keturunan Tionghoa yang datang ke Indonesia.

Ronde atau dalam bahasa aslinya, disebut dengan Tang Yuan, adalah makanan utama saat perayaan Festival Lampion. Namun pada perkembangannya, tang yuan juga dinikmati saat perayaan Festival Musim Semi dan Tahun Baru Imlek untuk merayakan mekarnya bunga-bunga.

Itulah mengapa seringkali orang membuat bola-bola tang yuan dengan warna-warni yang cerah. Dengan banyak makan ronde atau tang yuan yang hangat di perayaan Imlek, diharapan keluarga tetap bersatu, erat, harmonis, bahagia dan tidak terpisahkan.

Jadi, itu makna filosofis makan wedang ronde atau tang yuan di Hari Raya Imlek. Tak heran jika tang yuan menjadi salah satu makanan khas Imlek.

Kue Keranjang
Tahun Baru Imlek identik dengan barongsai dan kue keranjang untuk disajikan dan dibagikan kepada kerabat. Kue yang mirip dengan dodol ini, memiliki tekstur yang lengket, manis dan bikin ketagihan. Bentuknya yang khas bulat dan berwarna cokelat tentu sudah dikenal banyak orang. Tapi bagaimana dengan sejarah dan asal usulnya?

kue keranjang memiliki nama asli Nian Gao atau Ni-Kwe yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang Tahun Baru Imlek.

Di Jawa Timur disebut sebagai kue keranjang sebab dicetak dalam sebuah ‘keranjang’ bolong kecil. Sedangkan di beberapa daerah di Jawa Barat ada yang menyebutnya Dodol Cina untuk menunjukkan asal kue tersebut yaitu Cina.

Walaupun ada beberapa kalangan yang merujuk pada suku pembuatnya, yaitu orang-orang Tionghoa. Dalam dialek Hokkian, ti kwe berarti kue manis, yang menyebabkan orang-orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis.

Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang Tahun Baru Imlek, dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek).

Dipercaya pada awalnya kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga Hong Siang Te.

Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Di Cina terdapat kebiasaan saat Tahun Baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.

Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkuk berwarna merah di bagian atasnya.

Ini adalah simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkuk. Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet.

Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung. Tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat.

Dapat pula dijadikan sebagai bubur dengan cara dikukus kemudian ditambahkan bumbu-bumbu yang disukai. *

Pos terkait