

Lucky mengaku bangga bahwa ‘Dear David’ menjadi tontonan yang memantik banyak diskusi penonton Indonesia. “Percakapan mulai dari soal ranah privat, keriuhan media sosial, hak akan tubuh, hasrat, dan penerimaan diri secara unapologetic didiskusikan dengan begitu berwarna. Terima kasih, penonton Indonesia,” kata Lucky.
Sinema Netflix Indonesia ini memang dianggap kontroversial. Akibatnya, pencinta film Indonesia ramai membicarakan ‘Dear David’.
Karya Palari Films tersebut dinilai berhasil mengangkat isu yang tabu dan menampilkan laki-laki sebagai korban pelecehan seksual.
‘Dear David’ mengisahkan Laras, siswi berprestasi yang memiliki rahasia besar. Dia kerap berimajinasi membayangkan teman sekolahnya, David, dan dirinya dalam berbagai suasana.
Fantasinya ini dia tumpahkan dalam blog anonim yang kemudian dibocorkan oleh temannya. Bocornya rahasia Laras inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi masa depan pendidikannya.
Muhammad Zaidy, produser ‘Dear David’ mengatakan, ide awal cerita film ini berasal dari penulis Palari Films, Winnie Benjamin. Perempuan ini juga pernah menulis fiksi penggemar (fanfiction) layaknya yang dilakukan Laras.
Menurut Zaidy, topik itu adalah ide unik yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Selain itu, seputar fanfiction juga relevan bagi orang muda saat ini.
“Film remaja tidak hanya membicarakan boys and girls crush, karena remaja kita juga menghadapi mental health, sexuality, hormon, dan lainnya. Jadi mudah-mudahan ini membuka pintu untuk eksplorasi tema itu,” tutur Rusli Eddy, Content Lead Netflix Indonesia.
‘Dear David’ menjadi film remaja ketiga yang diproduksi Palari FIlms. Dua film lainnya adalah ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ (2021) yang disutradarai Lucky, dan ‘Posesif’ (2017) yang disutradarai Edwin. ana

















